RASIOO.id – Pemerintah pusat bersama Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor terus mempercepat persiapan pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya. Seluruh tahapan kini dikebut demi mengejar target groundbreaking atau peletakan batu pertama yang dijadwalkan berlangsung pada awal Agustus 2026.
Percepatan dilakukan melalui peninjauan langsung ke lokasi proyek di kawasan Galuga oleh perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama jajaran pemerintah daerah. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah memastikan kesiapan lahan seluas 8,7 hektare yang akan menjadi lokasi pembangunan fasilitas PSEL.
Lahan tersebut tidak hanya dipersiapkan untuk pembangunan fasilitas utama pengolah sampah menjadi energi listrik, tetapi juga akan dimanfaatkan sebagai area pengolahan fly ash dan bottom ash (FABA), yakni residu abu hasil proses pembakaran sampah menggunakan teknologi insinerator.
“Kami lihat tadi kesiapannya, akan disiapkan sekitar 8,7 hektare untuk PSEL dan juga pengolahan FABA. FABA itu residu dari proses PSEL,” ujar Deputi Bidang Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Menurutnya, setelah kesiapan lahan dipastikan, pemerintah akan langsung memasuki tahapan berikutnya, yakni pelaksanaan groundbreaking yang ditargetkan berlangsung pada awal Agustus mendatang.
“Jadi ini nanti kita pastikan lahan ini bisa siap sebelum rencana groundbreaking yang kira-kira di awal Agustus mendatang,” tambahnya.
Lokasi Baru Dinilai Lebih Strategis
Pemerintah menyebut lokasi yang dipilih saat ini jauh lebih ideal dibandingkan rencana sebelumnya. Selain memiliki kontur tanah yang relatif datar (flat), kawasan tersebut juga dinilai mampu menghemat waktu dan biaya pembangunan karena tidak membutuhkan pekerjaan pematangan lahan atau cut and fill dalam skala besar.
Tak hanya itu, akses menuju lokasi juga dinilai lebih mudah sehingga mendukung kelancaran mobilisasi alat berat maupun operasional fasilitas di masa mendatang.
Keunggulan lain yang menjadi nilai tambah adalah integrasi kawasan dengan fasilitas pirolisis yang akan dibangun oleh TNI. Nantinya, fasilitas pirolisis akan difokuskan untuk mengolah tumpukan sampah lama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara PSEL akan mengolah sampah baru yang masuk setiap harinya.
Skema tersebut diyakini menjadi solusi komprehensif untuk mengurangi beban sampah di kawasan Bogor Raya sekaligus menghasilkan energi listrik dari limbah yang selama ini menumpuk di TPA.
Kolaborasi Jadi Kunci Atasi Persoalan Sampah
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyambut baik percepatan proyek tersebut. Menurutnya, penyelesaian persoalan sampah tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta dukungan TNI.
“Kami merasa sangat terbantu dengan kerja sama ini, karena memang urusan sampah tidak mungkin bisa diselesaikan tanpa kolaborasi dan sinergi,” ujar Dedie.
Ia menegaskan, seluruh pihak kini memiliki komitmen yang sama untuk mempercepat pembangunan PSEL agar penanganan sampah di Bogor Raya dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Ada TNI dan pemerintah pusat, termasuk juga pemerintah kota dan kabupaten yang benar-benar berupaya semaksimal mungkin mempercepat proses groundbreaking supaya penanganan sampah dari hulu ke hilir bisa segera tuntas,” katanya.
Dedie berharap kehadiran Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pangan dapat mempercepat penyelesaian berbagai kendala teknis yang masih dihadapi di lapangan.
“Kedatangan Bu Deputi dari Kemenko Pangan ini diharapkan bisa mengakselerasi seluruh hal yang masih menjadi hambatan sehingga proyek ini dapat segera berjalan sesuai target,” tutupnya.














Komentar