RASIOO.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mulai mendorong solusi jangka panjang atas persoalan sampah di Galuga, Kecamatan Cibungbulang, yang selama kurang lebih 34 tahun menjadi bagian dari kehidupan warga sekitar.
Langkah tersebut dilakukan melalui kerja sama pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 bersama PT Weiming Nusantara Bogor New Energy yang mendapat dukungan dari Danantara.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama sekaligus serah terima lahan di Hotel Nawana, Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Rabu, 16 September 2026.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan pembangunan PSEL menjadi momentum untuk menghadirkan perubahan dalam pengelolaan sampah, khususnya bagi masyarakat di wilayah Bogor Barat yang selama puluhan tahun terdampak keberadaan tempat pembuangan sampah.
“Ini menjadi sebuah momentum semangat kita bersama memberikan sebuah harapan ke depan yang lebih baik lagi untuk Pemerintah Kabupaten Bogor, khususnya masyarakat Bogor di wilayah barat yang 34 tahun selalu mencium bau kurang sedap, lalu lingkungan juga tercemar,” kata Rudy.
Selama ini, TPA Galuga digunakan sebagai lokasi pengelolaan sampah oleh dua wilayah, yakni Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kota Bogor. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap sistem pengelolaan sampah yang lebih modern menjadi semakin penting.
Rudy menjelaskan, pembangunan PSEL Bogor Raya 1 menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama pemerintah pusat untuk mengolah sampah dengan teknologi yang menghasilkan energi listrik.
“Tahapan Pemerintah Kabupaten Bogor bersama pemerintah pusat melakukan pengolahan sampah yang lebih modern yaitu pengolahan sampah energi listrik dengan nilai investasi awal senilai 160 juta USD dolar,” jelasnya.
Fasilitas tersebut nantinya membutuhkan pasokan sampah sekitar 2.000 ton per hari. Sampah tersebut akan berasal dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.
“Jadi dua kabupaten kota, Kota Bogor dan Kabupaten Bogor ini per hari kami harus menyiapkan sampah kurang lebih sekitar 2.000 ton,” kata Rudy.
Menurutnya, kebutuhan bahan baku tersebut sejalan dengan kondisi timbulan sampah di kedua wilayah yang masih tinggi. Bahkan, setelah kebakaran yang terjadi di TPA Galuga, volume sampah yang tersisa masih cukup besar.
“Jadi untuk kondisi hari ini sampah surplus, bahkan dengan kondisi terbakar kemarin pun jumlah timbunan sampah masih sangat banyak,” tutupnya.













Komentar