Di sebuah pameran, perhatian pengunjung tertarik pada satu lukisan yang hanya berisi setengah kanvas. Lukisan dengan objek alam itu, adalah karya pelukis muda berusia 8 tahun. Karyanya bagus, layak dipamerkan. Tapi yang memantik benak pengunjung bertanya bukan sebagus apa karya lukisan itu. Yang menarik justru bagian atas kanvas yang dibiarkan kosong. Tak ada coretan atau warna apapun.
“Hidup memang seperti itu. Tidak akan pernah penuh,” gumam salah seorang pengunjung mencoba melekatkan makna mendalam pada lukisan. Filsuf yang juga penikmat karya seni itu mengusap-usap janggutnya sambil terus memandangi lukisan. Sembari menepuk bahu teman di sampingnya, Dia berujar. “Karya luar biasa. Pelukis yang cerdas,”
Ada juga yang menduga maksud si pelukis membiarkan bidang atas kanvas tak tersentuh dengan hal yang sangat spiritual. Bidang kosong di atas mencerminkan proses kembali kepada Tuhan tanpa membawa apapun dari dunia.
Singkat kata, lukisan setengah kanvas itu menjadi buah bibir, sepanjang gelaran pameran. Banyak pengunjung berupaya memberi tafsir untuk mengungkap makna bidang kosong lukisan. Kata “barangkali” atau “mungkin” sesekali membayang pada pikiran mereka.
Antiklimaks. Jawaban si Pelukis cilik saat meladeni wawancara seorang reporter yang menanyakan maksud bidang kosong di bagian atas kanvas. Kenapa Dia hanya melukis sebagian tidak keseluruhan. Kenapa hanya bagian bawah saja tidak sampai atas. “Karena yang atas tangan saya tidak sampai untuk menjangkaunya,” jawabnya, singkat.
Jawabannya hanya itu, tidak ada yang lain. Si Pelukis tidak juga punya maksud lain, apalagi menyengaja untuk menghadirkan makna sebagaimana yang sudah dipikirkan oleh sebagian pengunjung. Dia justru berharap apresiasi pengunjung terhadap karya lukisnya, pada garis dan warna dari sapuan kuasnya. Seberapa mirip dengan objek aslinya. Itu saja.
ohhhh…. jawaban si pelukis membawa pikiran yang terlanjur melayang-layang turun lagi ke daratan. Semua menjadi biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Lalu ada yang mesem-mesem, cecengiran, dan terbahak melepas segala sangkaan yang ternyata bukan.
Sikap mempertanyakan segala hal dengan sangat mendalam, seringkali kita lekatkan pada persoalan berbeda. Sesuatu yang mestinya ringan dan bisa ditertawakan kita sikapi terlalu serius dan menegangkan.
Seolah-olah ada misteri yang harus diungkap, lalu perhatian kita habiskan memikirkan itu dalam-dalam. Padahal, sikap demikian tidak juga membuat kita terlihat lebih pintar dan keren. Di mata sebagian orang, bahkan pribadi yang demikian cenderung menjadi tidak asyik dan membosankan.
Beberapa hal, barang tentu perlu dijadikan bahan renungan agar hidup tidak seperti bayangan penganut keyakinan bumi datar. Seorang idealis harus menjejakan kakinya di bumi, agar gerakannya tidak diperangkap khayalan dan gagasan saja. Demikian juga yang realis, harus membarengi langkahnya dengan ide. Tanpa pegangan nilai, sok-sokan realistis membuat tindak-tanduk kita jadi serampangan.
Bahkan, pragmatisme yang tidak dibarengi ide dan realitas akan membuat kita mudah diombang-ambing situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Demikian juga seorang yang merasa dirinya visioner. Tanpa ide, realitas, dan pragmatis, Dia seperti sedang menempatkan mimpi di lemari pendingin. Terbungkus, mengkristal, dan lalu membeku.
Lalu, apakah sesuatu hanya bermakna tunggal. Tentu tidak. Yang penting jangan jadi jelimet dan membuat kita jadi tidak leluasa bertindak.
Sederhana(kan)?!
Saeful Ramadhan
Penikmat Kopi Rujukan




![984a9ebd-d182-4e98-b980-49a9365e8917 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/984a9ebd-d182-4e98-b980-49a9365e8917-1024x682.jpg)



Komentar