Sejarah Singkat Candi Borobudur, Pusaka Kolosal Indonesia di Magelang Jawa Tengah

 

RASIOO.id – Candi Borobudur merupakan candi legendaris yang terkenal ke penjuru dunia. Pusaka kolosal di Magelang, Jawa Tengah ini memiliki catatan sejarah panjang dan mengagumkan. Bahkan Borobudur merupakan candi terbesar umat Budha di dunia. Wajar saja, karena Candi Borobudur memiliki luas sekitar 2500 meter persegi, dengan panjang 121,66 meter, lebar 121,38 meter, dan tinggi 35,40 meter.

Selain dari skalanya yang besar, Candi yang sangat legendaris ini tentunya juga menyimpan beragam fakta unik, serta berbagai macam hal menarik yang bisa kita temui saat berkunjung kesini. Sebelum beranjak ke Candi Borobudur ada baiknya mengetahui sejarah singkat candi Borobudur, yang dapat Anda simak dalam artikel berikut ini.

Baca Juga : Megahnya Masjid Baitus Shobur, Proyek Prestisius Budaya Tubaba Lampung

Sejarah singkat Candi Borobudur

Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8, tepatnya sekitar tahun 750-an masehi pada masa pemerintahan dinasti Syailendra. Pembangunannya diperkirakan berlangsung sekitar 75 tahun sampai akhirnya rampung pada saat pemerintahan raja Samaratungga berlangsung.

Candi Borobudur terletak diatas bukit hijau nan asri. Bangunannya sendiri terdiri atas jutaan blok batu yang dibuat kedalam tiga struktur yang menggambarkan tingkatan alam semesta menurut filsafat Buddha. Istilah Borobudur adalah ucapan yang sering diucapkan Buddha setelah adanya pergeseran bunyi, hingga menjadi Borobudur. Penjelasan lain pun mengatakan bahwa kata Borobudur berasal dari bara dan beduhur. Bara berarti vihara dan beduhur berarti tinggi.

Retno Susilorini dalam bukunya Kearifan Lokal Jawa Tengah: Tak Lekang Oleh Waktu menjelaskan bahwa filosofi dari bangunan candi Borobudur bisa dilihat dari relief Karmawibhangga yang menggambarkan kehidupan manusia dan memberikan petunjuk pendirinya yakni Raja Samaratungga yang berkuasa pada tahun 782-812 masehi.

Candi yang dibangun pada masa kejayaan Wangsa Syailendra dan didirikan oleh Samaratungga ini bertujuan untuk memuliakan Buddha Mahayana sebagai kepercayaan yang banyak dianut masyarakat pada waktu itu.

Baca Juga : Desain Antikolonial Sentuhan Bung Karno pada Masjid Jamik Bengkulu  

Kemegahan Borobudur

Candi Borobudur terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.

Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

Para peziarah masuk melalui sisi timur dan memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha.

Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).

Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkann

Baca Juga : Hikayat Sirathal Mustaqiem Samarinda, Kampung Judi dan Nenek Misterius Dirikan 4 Tiang Masjid

Kemegahan Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah (indonesia.travel)

Tertimbun Abu Letusan Gunung

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok. Pemindahan pusat kerajaan Mataram itu terpaksa dilakukan menyusul erupsi dahsyat Gunung Merapi yang diperkirakan terjadi pada tahun 1006.

Letusan Gunung Merapi menyebabkan Candi Borobudur tertimbun oleh debu vulkanik selama ratusan tahun lamanya. Borobudur kemudian hanya meninggalkan kenangan kemegahan hingga berabad-abad abad pusaka kolosal Magelang, Jawa Tengah itu ditemukan kembali.

Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh seorang insinyur Belanda bernama Hermanus Christiaan Cornelius, ketika kerajaan Inggris yang diwakili oleh Thomas Stamford Raffles menduduki beberapa bagian pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah.

Penemuan candi borobudur sendiri berawal dari perjalanan yang dilakukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles ke kota Semarang. Kala itu, ia menemukan informasi bahwa di kawasan Kedu (karesidenan yang meliputi Magelang), ada beberapa susunan batu bergambar yang ditutupi semak belukar.

Kemudian pada tahun 1835, Raffles mengutus Cornelius untuk meninjau dan membersihkan bangunan tersebut bersama Residen Kedu. Adapun pemugaran bagian Arupadhatu (puncak candi) dilakukan oleh Theodore Van Erp pada tahun 1907-1911.
Setelah Indonesia merdeka, pada akhir tahun 60-an pemerintah bekerja sama dengan UNESCO untuk memugar candi bersejarah tersebut.

Pemugaran lanjutan dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO pada tahun 1973 – 1983. Pemugaran yang dilakukan berfokus pada bagian candi di bawah arupadhatu yang dibersihkan dan dikembalikan ke posisi semula. Pada 1991 UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia.

Bentuk Bangunan Candi Borobudur
Bangunan candi Borobudur dibedakan menjadi tiga bagian yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

  1. Kamadhatu adalah bagian tingkat pertama hingga tingkat ketiga dari candi Borobudur. Bagian Kamadhatu memiliki relief karmawibhangga yang menggambarkan hukum pada umat manusia.
  2. Rupadhatu adalah bagian tingkat keempat hingga keenam candi yang memiliki relief Lalitavistara dan Jatakamala yang menggambarkan kisah hidup sang Buddha.
  3. Arupadhatu atau bagian atap candi tingkat ketujuh hingga kesepuluh. Pada bagian ini tidak ada relief namun memiliki banyak stupa yang menggambarkan pencapaian sempurna umat manusia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Terkait kepariwisataan, Borobudur adalah objek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

Pada 11 Februari 2022, pemerintah meresmikan status Candi Borobudur kembali sebagai tempat peribadatan umat Buddhis di Indonesia dan dunia. (*)

Lihat Komentar