Mengenal Kain Tenun Mata Manuk yang akan Dipakai Kepala Negara di KTT ASEAN Labuan Bajo

RASIOO.id – Momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, 9–11 Mei 2023 dimanfaatkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nusa Tenggara Timur untuk mengangkat kain tenun ikat khas Flores.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Laiskodat mengatakan pihaknya telah menyiapkan kemeja dari tenun khas Manggarai Barat untuk dipakai seluruh kepala negara ASEAN dan Sekjen ASEAN dalam KTT ASEAN 2023.

“Saya sudah siapkan, sudah kirim ke Istana Negara, dari UMKM di Kecamatan Lembor, dan Presiden Jokowi sendiri yang memilih kepala negara mana pakai warna apa, itu beliau sendiri yang pilih,” Julie Laiskodat di Labuan Bajo, pada akhir April lalu.

Dekranasda Provinsi NTT telah menyiapkan 12 pasang kain tenun untuk dijadikan kemeja dan digunakan 11 kepala negara ASEAN dan Sekjen ASEAN. Motif yang digunakan dalam tenun Manggarai Barat itu motif mata manuk (mata ayam). Adapun untuk warna dan model dari kain tenun tersebut, dipilih langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

Selanjutnya Dekranasda Provinsi NTT menyiapkan selendang yang akan digunakan oleh pasangan dari para kepala negara atau Ibu Negara dalam spouse program. Warna dan model dari selendang yang digunakan nanti dipilih oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

Sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana, menurut istri Gubernur NTT itu, kain tenun yang akan digunakan nanti berbahan lembut dan tidak panas.

Pemakaian produk tenun itu sekaligus menjadi ajang promosi kekayaan intelektual tenun yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang patut mendapatkan apresiasi semua pihak.

Dengan begitu, masyarakat Manggarai Barat bisa berbangga ketika para kepala negara ASEAN mengenakan kemeja tenun dengan motif mata manuk tersebut.

Baca Juga : Pesta Rakyat akan Semarakkan KTT ASEAN di Labuan Bajo

Asal Mula Tenun Ikat Flores

Kain tenun ikat Flores juga dikenal sebagai kain songke. Wastra songke adalah tenun khas masyarakat Manggarai yang tinggal di sisi barat Pulau Flores. Kain tenun ini wajib dikenakan saat acara-acara adat. Seperti menghadiri kenduri (penti), membuka ladang (randang), hingga saat musyawarah (nempung).

Sejarah kain ini bermula pada 1613-1640, ketika kerajaan Gowa Makassar, Sulawesi Selatan pernah menguasai hampir seluruh wilayah Manggarai Raya. Terjadilah akulturasi budaya Makassar dan suku Manggarai, sehingga melahirkan tradisi baru. Termasuk di dalamnya, cara berbusana sehingga kebudayaan dari Makassar sebagian dibawa ke Manggarai.

Nah itu termasuk juga kain yang digunakan. Orang Makassar menyebut songke dengan sebutan songket, tetapi orang Manggarai lebih mengenalnya dengan sebutan songke (tanpa akhiran huruf t).

Bagi kaum laki-laki Manggarai biasanya mengenakan (tengge) Songke lalu mengombinasikannya dengan destar atau ikat kepala atau peci khas Manggarai. Sementara itu, para perempuan mengenakan dengan cara yang sama dengan atasan kebaya.

Kain songke juga dipakai oleh para petarung dalam tarian caci serta, dimanfaatkan sebagai mas kawin (belis), hingga untuk membungkus jenazah. Kain ini umumnya berwarna dasar hitam.

Warna hitam bagi orang Manggarai melambangkan kebesaran dan keagungan serta kepasrahan bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, oranye, dan kuning.

Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan. Baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam, maupun dengan Sang Pencipta.

Adapun ada beberapa motif kain tenun Manggarai Barat ini, antara lain, motif mata manuk, motif su’i (garis kehidupan), motif wela ngkaweng (bunga penyembuhan), motif ntala (bintang), wela runu (bunga kecil), dan motif ranggong (laba-laba).

Baca Juga : Ini Link ASEANpedia e-book Gratis tentang ASEAN

Motif Mata Manuk

Mata manuk artinya mata ayam. Dikutip dari laman Kompas.com, motif mata manuk pertama kali dibuat oleh Maria Elisabeth C. Pranda saat ia menjabat sebagai Ketua Dekranasda Kabupaten Manggarai Barat, dari 2005 hingga 2010. Maria adalah istri dari Bupati pertama Manggarai Barat, yaitu almarhum Wilfridus Fidelis Pranda.

Menurut Maria, motif mata manuk dengan model trapesium memiliki filosofi nilai budaya dan religius yang sangat tinggi bagi masyarakat Manggarai Barat. Manuk sering digunakan sebagai sarana penyembahan kepada sang pencipta dan leluhur, alam ritus-ritus adat. “Ayam juga sebagai sarana perdamaian dan persaudaraan, sebagai simbol kejantanan dan keberanian, serta sebagai penolak bala,” katanya.

Songke Manggarai bermotif mata manuk telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sejak September 2020.

Komentar

Rekomendasi Untuk Anda