RASIOO.id – Tiga hari menjelang lengser, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melantik Iwan Setiawan menjadi Bupati Bogor untuk sisa masa jabatan 2018-2023. Iwan yang sebelumnya Wakil Bupati menggantikan Ade Yasin, politisi PPP, pasangannya di kontestasi Pilkada Bupati Bogor 2018.
Ade terhenti karena persoalan hukum yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebelum lebaran 2022, ia digelandang penyidik ke gedung merah putih di Kuningan, Jakarta Selatan, dan kemudian berlanjut kasus hingga putusan pengadilan.
Pelantikan Iwan Setiawan yang berlangsung di Gedung Pakuan, Bandung, Jawa Barat pada Sabtu 2 September 2023 itu kali kedua, Ridwan Kamil melantik Bupati Bogor dalam kurun satu periode ini.
Pada periode sebelumnya, hal demikian pun terjadi. Saat itu Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat harus dua kali melantik Bupati Bogor, yakni Rachmat Yasin pada 30 Desember 2013 dan Nurhayanti pada Senin 16 Maret 2015. Periode pemerintahan 2013-2018 itu menambah dua nama ke dalam daftar barisan mantan Bupati Bogor.
Nurhayanti menggantikan jabatan itu karena Rachmat Yasin terpegat kasus hukum yang ditangani KPK. Pensiunan birokrat dengan jabatan terakhir Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor itu menjalani sisa masa jabatan hingga 30 Desember 2018. Sebetulnya, banyak godaan partai politik datang meminta Nurhayanti mencalonkan diri sebagai Bupati Bogor di Pilkada 2018. Namun, nenek dua cucu itu tegas memilih tidak.
“Saya ingin menghabiskan waktu dengan keluarga,” kata Nurhayanti, sebelum mengakhiri masa jabatannya pada 2018 silam.
Mempertegas soal-soal itu, dalam dua kali periode, Kabupaten Bogor memiliki empat orang bupati sekaligus. Dalam kondisi normal, butuh sedikitnya 20 tahun, bahkan 40 tahun dihitung satu atau dua periode berganti orang Bupatinya. Tapi, di Kabupaten Bogor Seperiode dua orang dilantik menjadi orang paling “top” di kancah perpolitikan Bumi Tegar Beriman itu.
Beda dengan Nurhayanti, Iwan Setiawan praktis punya waktu yang jauh lebih pendek. Jabatan Iwan sebagai Bupati Bogor akan berakhir pada 30 Desember 2023. Cuma empat bulan setelah dia resmi mengucap sumpah janji di depan Gubernur. Sehabis sumpah suci itu, tentu saja kegiatan berlanjut antrian ucapan selamat serta permintaan foto bareng dari keluarga, kolega, dan tak mau ketinggalan para pejabat esselon.
Empat bulan, tentu saja bukan waktu yang banyak untuk menuntaskan pelbagai urusan daerah berpenduduk 5,4 juta orang, 40 Kecamatan, 435 desa itu. Warga Bogor baik tua maupun muda, perempuan dan juga laki-laki, semuanya perlu diopeni. Tak terkecuali!
Apalagi, satu tahun belakangan, banyak organisasi perangkat daerah (OPD) yang tak punya pimpinan definitif karena pejabat yang penuh syarat-syarat terhitung jari, sementara yang secara kepangkatan sudah mumpuni berkeluaran pensiun, mirip kelompok bebek di kali yang naik ke daratan. Tidak gampang mengantikan capaian mereka. Untuk naik eselon II, ASN wajib kudu ikut seleksi terbuka yang katanya ketat bukan main.
Karena itu, usai dilantik Iwan Setiawan mengatakan akan bergegas mengevaluasi kinerja perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor dan mengisi jabatan strategis yang saat ini kosong. Soal isi mengisi posisi ini, merupakan satu dari banyak mungkin prioritas lain-lain yang bikin jidatnya berkerut.
“Semoga sekarang ini proses pengisian itu bisa kembali normal baik di esselon II,III A atau B di sisa masa jabatan saya yang tersisa empat bulan ini,” ujar politisi Gerindra itu.
Peryataan ini sekaigus juga mengutarakan apa yang dia sebut “keterbatasan” melakukan kerja rotasi, mutasi, juga promosi ASN karena setahun belakangan statusnya sebagai pelaksana tugas saja. Belum Bupati beneran. Karenanya, pengisian jabatan terhalang-halang birokrasi panjang juga berbelit-belit. Harus ini dan itu dulu, ijin sana dan sini juga harus ditempuh.
Di sisi lain, Iwan Setiawan mengucapkan rasa syukur atas pelantikan dirinya sebagai Bupati Bogor.
“Saya menyimak kata-kata pak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, cukup singkat namun berisi, bagaimana Plt Ini bebannya tidak ada penekanan karena tidak ada sumpah. Tapi setelah jadi bupati definitif, sudah disumpah,” kata dia.
Baca Juga : Pemkab Bogor Targetkan Jabatan Kosong Eselon II Terisi Sebelum Iwan Setiawan Lengser
Pancakarsa atau Karsa saja
Seberapa pun pendek usia jabatan Iwan Setiawan sebagai Bupati Bogor, tetap saja di harus memikul tanggungjawab Pembangunan Jangka Menengah Daerah sejak 2018 sampai 2023. Perda Nomor 4 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018-2023, sudah sekali direvisi menjadi Perda Nomor 3 Tahun 2021.
Perda perubahan tersebut tak menggeser substansi arah pembangunan, tetap mengacu pada pentahapan pembangunan jangka menengah yang tercantum dalam Perubahan RPJPD Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025, arah pembangunan Perubahan RPJMD Tahun 2018-2023 adalah mengoptimalkan pembangunan daerah di seluruh bidang/urusan pemerintahan. Sungguh urusan yang bukan main!
“Terwujudnya Kabupaten Bogor Termaju, Nyaman dan Berkeadaban” menjadi visi pembangunan yang ingin dicapai pada akhir 2023 ini.
Ada 5 misinya. Mewujudkan kesalehan sosial, mewujudkan masyarakat yang berkualitas, mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan dan berkelanjutan, dan terakhir tata kelola pemerintahan daerah yang baik.
Diperas-peras, visi dan misi itu menjadi sangat singkat “Pancakarsa”. Lalu kemudian, jadilah rangkaian kalimat membangun masa depan Kabupaten Bogor dengan Pancakarsa.
Karsa Bogor Cerdas untuk membangun kualitas manusia Bogor baik laki maupun perempuan. Penjabarannya panjang sekali yang tak mungkin ditulis ulang disini.
Kemudian Karsa Bogor Sehat untuk urusan macam-macam dari mulai biaya berobat, sampai penanganan balita jangan sampai gagal tumbuh. Warga Bogor mesti jangkung-jangkung, sehat jiwa dan raga.
Pada Karsa Bogor Sehat ini, Pemkab Bogor mencanangkan mimpi membangun RSUD Parung. Bangunannya sudah berdiri dan kini dioperasikan sebagai Klinik Pratama. Rasanya untuk urusan penyakit yang susah disembuhkan, warga yang datang berobat hanya bisa minta rujukan juga anjuran dokter yang tugas disana.
Karsa Bogor Maju lain lagi ceritanya. Kata “maju” dalam karsa yang ketiga ini dinisbatkan untuk urus mengurus masalah ekonomi. Mulai urusan pemuda luntang-lantung gak punya kerjaan, sampai urusan usaha paling kecil untuk di”Industri-kan”.
Yang keempat, Karsa Bogor Membangun. Karsa ini yang tentunya mendapat porsi anggaran jumbo tahun ke tahun. Tentu saja, karena membangun jalan, menata pedestrian, revitalisasi jembatan, penataan kawasan, hingga integrasi perparkiran dan betonisasi butuh triliunan. Jumlah uang yang sangat banyak.
Terakhir, Bogor Berkeadaban yang berfokus pada fasilitas sosial keagaman, seni dan juga kebudayaan dari mulai “bogor ngaos” sampai “kemis nyunda” yang entah sudah sejauh mana realisasinya.
Akhir-akhir ini Pancakarsa yang hasil perasan rencana pembangunan yang jelimet itu sudah tidak senyaring masa awal-awal. Ade Yasin dulu tak segan-segan mengajak siapa-siapa “menjemrengkan” lima jemari tangannya. Sambil direkam video lalu semua kompak teriak “Pancakarsa”.
Beda dengan Iwan, sosok yang turut membina atlit-atlit tarung derajat itu, nampaknya kurang fasih memainkan jurus demikian. Iwan lebih sering menggunakan diksi lain untuk menggenjot semangat anak buahnya membangun Kabupaten Bogor. Kenapa bisa begitu? tanya saja yang bersangkutan!
Soal gaya, fashion atau apapunlah namanya tidak terlalu penting dibahas panjang-panjang, apalagi dibanding-bandingkan. Yang penting adalah hasilnya bagaimana?. Hasil pembangunan yang rencananya mereka yang susun dan kemudian menjadi mimpi seantero warga Kabupaten Bogor.
Satu periode dua bupati mudah-mudahan cukup waktu dan figur menuntaskan soal-soal itu. Bagaimana hasilnya? Kita tunggu saja!
Simak rasioo.id di GoogleNews















Komentar