Menurut cerita rakyat yang berkembang, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II, di daerah mancingan (pantai selatan) terdapat orang asing yang tidak diketahui asal usulnya. Oleh masyarakat, orang asing tersebut dibawa ke Kraton. Selanjutnya ia menjadi abdi dalem Sri Sultan.Setelah ditanya tentang asal usulnya, menurut pengakuannya berasal dari Portugis. Di negaranya ia bekerja sebagai tukang pembuat bangunan ataupun rumah.
Dengan dasar keahliannya tersebut, kemudian Sri Sultan memberikan tugas kepadanya untuk membuat benteng Kraton, setelah berhasil ia diberi kedudukan sebagai demang, namanya Demang Tegis. Tugas selanjutnya adalah membuat bangunan Tamansari, disebelah barat daya Kraton.
Keberadaan asal usul bangunan Taman Sari juga mendapat perhatian dari sarjana asing. Di antaranya adalah P.J.Venth dan Y .Groneman. Menurut P.J.Venth, kompleks Taman Sari berdasar bentuk, seni hias, dan coraknya adalah Jawa. Bangunan tersebut didirikan atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono II.
Berbeda dengan pendapat tersebut di atas, yaitu Y.Groneman dalam artikelnya menyatakan bahwa komplek Taman Sari merupakan pesangrahan yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun Ehe 1684 Jw atau 1758 Masehi.
Pelaksana pembuatannya adalah Tumenggung Mangundipuro dibantu oleh Lurah Dawelengi yang berasal dari Bugis. Dalam rangka pelaksanaan pembangunan, Tumenggung Mangundipuro dua kali pergi ke Batavia, untuk mencari corak bangunan yang bergaya Eropa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bangunan-bangunan di Taman Sari mempunyai corak yang akulturatif campuran gaya Jawa dan Eropa.
Interpretasi Y.Groneman nampaknya mengacu pada naskah yang ada di Kraton Ngayogyakarta. Dalam Babat Momana maupun Serat Rerenggan Kraton disebutkan bahwa Pesanggrahan Tamansari didirikan atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Baca Juga : Sejarah Singkat Candi Borobudur, Pusaka Kolosal Indonesia di Magelang Jawa Tengah










Komentar