RASIOO.id – Salah satu keistimewaan yang Tuhan berikan kepada manusia adalah Batasan dan Kebebasan. Tentu, setelah mendengar kata “Batasan” pikiran kita akan menuju kepada “waktu”. Begitupun saat mendengar kata “Kebebasan” pikiran kita akan menuju kepada “kekuasaan”.
Selain itu manusia diberikan ruang beserta isinya oleh Tuhan sebagai bentuk pengistimewaan kepada manusia. Ini tanda yang paling jelas atas kecintaan Tuhan kepada manusia. Tapi, tidak berhenti sampai di sini. Ada amanah kekhalifahan yang Tuhan percayakan kepada manusia untuk mengurus bumi, dan manusia harus melaporkan hasil atas amanah yang telah Tuhan berikan.
Di sini, ada hal menarik dibalik istilah “batasan” dan “kebebasan”. Jika selama ini kita menganggap bahwa “Batasan” adalah masalah kemajuan/peradaban maka itu salah besar. Bahkan masalah akan muncul jika tidak adanya “batasan”.
Baca Juga : Setengah Kanvas dan Repotnya Pikiran
Orang yang memesan kursi kepada pengrajin tidak mungkin akan berkata, terserah kursinya mau jadi kapan, justru malah sebaliknya, ia akan memberikan harapan supaya kursi yang dipesannya segera selesai dengan waktu yang ditentukan.
Batasan itu yang membuat gerak manusia semakin lincah, pikiran semakin cemerlang dan lahirnya kerja keras. Ini contoh sederhana yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Batasan adalah keniscayaan atas ruang dan waktu. Batasan melahirkan peran dan fungsi untuk segala macam capaian hidup. Itu semua dibuat dan dirangkai demi terwujudnya tujuan kekhalifahan manusia yaitu keadilan dan kemakmuran bersama.
Kemewahan dan kemudahan yang dirasakan saat ini adalah buah dari “batasan” dan “kebebasan”. Orang yang mengerti tentang “batasan” ia akan segera merumuskan dan membuat tujuan dalam hidupnya.
Ia tidak akan membiarkan waktu itu berlalu dan pergi seenaknya tanpa kita isi dengan sesuatu yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya.
Pertanggungjawaban adalah kunci yang menggerakkan manusia berbuat kebajikan. Pemimpin yang kehilangan ingatan tentang “pertanggungjawaban” atas amanah kekhalifahannya, maka kerusakan di segala sektor akan semakin nampak terlihat dan dirasakan di tengah kehidupan kita.
Pentingnya memahami “batasan” sebagai cara untuk menangkis segala hal yang dapat merusak kedamaian, keharmonisan, keadilan, kemajuan, kemakmuran dan kebahagiaan bersama.
Bukankah perpecahan adalah musuh kemanusiaan. Maka pahami “batasan” itu sebagai keistimewaan yang telah Tuhan berikan kepada manusia.
Keistimewaan selanjutnya adalah kebebasan. Manusia diberikan kebebasan dalam menerjemahkan tujuan kekhalifahan di atas sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Andai kemampuan manusia semuanya seragam, yang ada tidak akan terwujud tujuan kehidupan di bumi. Kebebasan berangkat dari jerat atas tindakan yang terpaksa. Yang membuat hidup manusia menjadi abu-abu. Hilang separuh dirinya. Karena itu kebebasan harus diraih supaya lebih mudah mewujudkan harapan-harapan yang ada dalam dirinya.
Namun, tidak sedikit juga yang salah paham dalam menerjemahkan “kebebasan”, yang berakibat kepada tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Salah satu ciri yang dianggap sebagai kebebasan adalah kemandirian. Biasanya yang demikian sudah memiliki kematangan dalam berpikir, sudah mampu memahami segala macam kemungkinan atas ketetapan yang dipilihnya. Jadi, kebebasan adalah manusia yang utuh. Karena itu, ia menjadi sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh manusia.
Penulis : Robi Sugara
Pengajar di PonPes Al-Mubarok dan Kepala Sekolah Filsafat Averroes
Simak rasioo.id di GoogleNews






Komentar