RASIOO.id – Membangun negeri ini, kata orang tua-tua, butuh teman seperjalanan. Bukan teman yang hobi ngilang pas disuruh iuran, tapi teman sejati: setia, tahan banting, kuat jalan jauh, dan tidak banyak ngeluh. Nah, Nahdlatul Ulama – disingkat NU – itu teman model begitu. Sampeyan harus percaya. titik!
Zaman jungkir balik, teknologi bikin dunia kayak pasar malam, NU tetap sabar di pojokan sambil memandang “tambang dan bola dunia”.
Sesekali Nahdliyyin yang banyak ragamnya ini, buka lipatan kertas yang terselip di dalam dompet. Kertas ini, barangkali berisi teks wiridan yang dijazahkan oleh kiai nya, Saking banyaknya, Nahdliyyin awam setengah mati menghafalnya.
Itulah mengapa, dompetnya sesak tebal dengan naskah amalan. Namun demikian tidaklah mengurangi mujarabnya do’a yang sanadnya sangat panjang itu. Sambil berdoa Nahdliyyin yang sekarang juga diajarkan berbisik: “Mari kita rawat jagat, dan kalau sempat, kita bangun peradaban juga.”
Meski pelan, soal ini, Nahdliyyin yang awam pun sangat serius.
Boleh dibilang, do’a warga Nahdliyyin dari yang kiai, yang hampir kiai, yang petani, pedagang bensin eceran, bahkan yang nyopet di pasar, sama soal negerinya “Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur”, dan tentu saja NKRI harga mati. Gak bisa ditawar-tawar. Titik lagi!
Kalau soal kayak gitu, dari tingkat pusat ber-AC sampai anak ranting yang rapatnya masih pinjam karpet mushola, semua bergerak. Nahdliyyin yanv pake jas dan sepatu pantopel merk impor, sampai yang sarungnya diselempang kayak selendang, sama-sama bawa misi besar: mendampingi umat, memenangkan masa depan. Istilah menterengnya: mitra strategis bangsa.
Pemerintah Kabupaten Bogor, untungnya, punya radar yang lumayan peka. Melihat NU serius jalan, langsung saja Ketua DPRD Bogor, Sastra Winara, ngajak sinergi dan kolaborasi.
Hadir pada pembukaan Konfercab PCNU Bogor, Sabtu 26 April 2025, Sastra bilang: “Ayo pegangan tangan, jangan saling sikut.” Dia berharap PCNU Kabupaten Bogor mau masuk “barisan” dengan Pemkab Bogor. DPRD sudah ada di barisan itu. Barisan yang ingin merangsek kesempatan untuk meraih dan memenangi masa depan.
Bogor Istimewa ingin jadi Kuta Udaya Wangsa, yang kalau diterjemahin seadanya, “Kabupaten Bogor dengan segenap-ganjil potensinya ingin jadi pusat kemajuan bangsa”.
(Istilah yang lebih tepat sebetulnya kebangkitan, tapi diksi tersebut terlalu PKB, gak enak sama PPP, Golkar dan juga Gerindra).
Terlepas itu, tekad Ini bukan omong kosong.
Sastra, yang dulunya ajudan Prabowo kayak Bupati Rudy Susmanto, tahu betul: membangun daerah ini butuh banyak tangan. Bukan cuma tangan yang lihai tanda tangan, tapi juga tangan yang mau turun tangan.
Apalagi, di masa ini, PBNU KH Yahya Cholil Staquf, mewajibkan PCNU di tingkat cabang membangun madrasah, klinik pratama, dan badan usaha. Tingkat wilayah, bahkan harus mampu membangun seminimalnya, Rumah Sakit.
Ini tentu menjawab soal pelik yang dihadapi pemerintah dalam melayani rakyatnya. Kabupaten Bogor ini PR-nya masih banyak. Rasio rumah sakit sama jumlah penduduk berat sebelah, kayak sandal jepit putus sebelah.
Mau naikin akses dan kualitas pendidikan juga berat, ibarat main jungkat-jungkit sendirian gak punya teman. Pengangguran? Ah, itu antreannya bisa lebih panjang dari antrean ayam geprek yang digratiskan.
Di tengah kepelikan itu, NU dengan semangat membangun peradaban, datang tidak dengan otak kosong. Setidaknya kali ini juga bukan hanya bawa dalil dan sanad-sadnya, NU bawa ide yang lebih nyata, setiap tingkatan PC di”wajibkan” bikin madrasah, klinik pratama, dan badan usaha. Targetnya: minimal satu.
“Minimal” di sini artinya: jangan janji di atas kertas, terus ambyar pas hujan pertama.
Membangun daerah memang bukan soal mencetak brosur visi-misi, lalu tidur siang.
Membangun daerah itu mirip-mirip ternak ayam kampung: mesti sabar, mesti sayang, dan kalau diseruduk juga harus kuat mental.
NU paham itu.
Tinggal sekarang: pemerintah mau beneran barengan jalan, atau cukup barengan foto.
Kalau barengan jalan, pelan-pelan Kabupaten Bogor bisa ikut menulis cerita emasnya.
Kalau cuma barengan foto… ya, mungkin cukup buat bahan upload Instagram, caption-nya: “Pembangunan adalah kita.”
Atau malah sebaliknya, jangan dan jangan-jangan NU yang mengajak jalan, tapi gak mau jalan. Soal itu, waktu akan menguji!
Simak rasioo.id di Google News













Komentar