Oleh : Saeful Ramadhan
RASIOO.id — Terik matahari gurun membakar batu-batu hitam di kaki Jabal Tsur, salah satu gunung paling bersejarah di jazirah Arab. Di tempat inilah, Rasulullah SAW dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Saat ini, setelah lebih dari 14 abad peristiwa menggetarkan itu, suasana di kaki Jabal Tsur penuh kehidupan. Ribuan merpati beterbangan di udara, turun mencari remah di antara para peziarah. Di sisi kanan jalan, pedagang siwak, kurma, dan minyak wangi berbaur dengan peminta sedekah yang tarif minimumnya lima riyal. Kurang jumlah itu, nampaknya mereka kurang berkenan menerima sedekah peziarah..
Di antara hiruk pikuk itu, rombongan peziarah asal Travel Ibnu Aqil Bogor, berkesempatan menjejakan kaki di kaki gunung tersebut. Rabu, 1 Oktober 2025. Siang menjelang tengah hari.
Di bawah bayangan tebing curam yang menjulang ke langit, KH Agus Salim, atau Abi Gus Lim, yang memimpin rombongan mendaki sedikit kaki gunung. Lantas, sosok ulama yang sejak tahun 1971 sudah menjejakan kakinya di tanah kelahiran Rasulullah SAW itu memilih duduk di antara bebatuan. Di hadapan puluhan jamaah, Abi Gus Lim menunjuk ke arah puncak gunung.
Berpuluh pasang mata, lantas memandang ke mengikuti arah telunjuk sosok sepuh tersebut. Nampak sejauh penglihatan, Jabal Tsur didominasi bebatuan dan ditandai dengan tiga puncak yang saling berdekatan. Di baliknya, terdapat gua berukuran sekitar 1,5 meter tingginya, 3,5 meter pesegi luasnya. Bentuknya seperti wajan yang ditelungkupkan. Di sana terdapat dua pintu masuk/keluar, satu sisi barat dan satu sisi timur. Jabal Tsur berjarak, sekira 5 kilometer dari Kota Mekkah.
Dari kejauhan itu, pandangan jamaah juga menemukan beberapa alat berat yang sedang “menggaruk-menggaruk” bebatuan. Rupanya, pemerintah Arab Saudi terus menata akses untuk memanjakan peziarah menuju gua bersejarah tersebut. Gua kecil yang menjadi saksi bisu salah satu kisah paling agung dalam sejarah Islam.
“Di balik batu itu, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kafir Quraisy,” kata Gus Lim, merujuk Gua Tsur.
Berdasarkan riwayat, Gus Lim melanjutkan, Nabi dan sahabatnya itu, bersembunyi selama tiga hari di dalam gua. Selama itu, mereka mendapat kiriman makanan dari Asma’ binti Abu Bakar. Selain itu, ada peran Amir bin Fuhairah, seorang pengembala kambing yang menggiring kambingnya mendekati gua untuk menghapus jejak kaki agar tidak ditemukan musuh.
Riwayat menyebut, tak lama setelah Rasulullah dan abu Bakar memasuki gua, Allah mengutus seekor laba-laba membangun jaring di mulut gua, dan dua burung merpati bertelur di sana. Ketika pasukan Quraisy mendekat, mereka melihat sarang dan telur itu, lalu berkata,
“Tidak mungkin ada orang di dalam gua ini. Lihat, laba-laba saja belum terusik.”
Demikianlah cara Allah menjaga kekasih-Nya. Hingga kini, merpati menjadi simbol kelembutan dan penjaga Jabal Tsur, ribuan ekor beterbangan setiap hari, seolah masih menjaga rahasia gua tempat mukjizat itu terjadi.
Seekor Ular yang Menangis Rindu
Gus Lim melanjutkan kisah yang sudah melewati 14 abad, yang menekankan kesetiaan Abu Bakar. Dia bahkan menyampaikan kisah yang barangkali jarang didengar oleh sebagian jamaah. Kisah tentang rasa cinta seekor ular kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang disebut dalam banyak riwayat klasik.
“Saat Rasulullah beristirahat di dalam gua, Abu Bakar melihat lubang kecil di dinding. Ia khawatir ada hewan berbisa, lalu menutup lubang itu dengan tumitnya,” tutur Gus Lim sambil menunduk.
“Ternyata di balik lubang itu, ada seekor ular yang telah menunggu ribuan tahun hanya untuk bisa menyentuh Rasulullah.”
Ular itu mematuk kaki Abu Bakar. Namun sang sahabat tak bergerak sedikit pun, menahan sakitnya agar Rasulullah tidak terbangun. Air matanya menetes, bukan karena rasa perih, tapi karena cinta, agar Nabi tetap dalam lindungan.
“Ular itu bukan ingin menyakiti. Ia rindu, karena sejak ribuan tahun lalu ia tahu, Nabi terakhir akan datang melewati tempat itu,” ujar Gus Lim, matanya menatap jauh ke arah puncak. “Ia hanya ingin bersentuhan dengan kekasih Allah yang telah lama dinantinya. Namun, ular tersebut merasa Abu Bakar menghalanginya,” kata Gus Lim.
Di dalam gua yang sempit itu, Abu Bakar menunjukan kesetiaannya kepada Nabi, dan seekor ular berbisa mengungkapkan kerinduannya kepada kekasih Allah SWT tersebut. Di gua itu, Nabi juga menunjukan Mukjizat, mengusap luka di kaki Abu Bakar yang kemudian langsung sembuh tak berbekas.
Sambil menatap jamaah, Gus Lim membuka mengutip firman Allah:
“Idz huma fil ghari idz yaqulu li shahibihi la tahzan innallaha ma’ana…”
(Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). — QS. At-Taubah: 40
“Inilah ayat yang mengabadikan nama Abu Bakar. Tak ada sahabat lain yang disebut langsung oleh Allah sebagai shahibihi, sahabat Nabi,” jelas Gus Lim.
“Karena kesetiaannya, karena imannya yang tak tergoyahkan, namanya hidup selamanya dalam Al-Qur’an.”
Baca Juga: Belajar Diplomasi dari Hudaibiyah: Saat Nabi Menunda Umrah, Tapi Menang Sejarah
Puluhan jamaah Travel Ibnu Aqil terdiam dalam haru. Beberapa menunduk, menyeka air mata. Di sekeliling mereka, pedagang kembali membuka dagangan, pun peminta sedekah yang merangsek lingkaran jamaah. Sementara merpati melintas rendah, seperti mendengarkan kisah dengan kepakan sayap damai.
Abi Gus Lim menatap kembali ke arah gua, lalu melanjutkan kisah haru tersebut.
“Setelah keadaan dirasa aman, Nabi dan Abu Bakar keluar dari dalam gua pada malam keempat dan melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan penunjuk jalan Abdullah bin Uraiqith,” kata dia.
Saat mendapat tugas penting itu, Abdullah Uraiqith yang dijuluki “dalil as-sabil” (penunjuk jalan) oleh masyarakat Quraisy belum memeluk agama Islam. Namun demikian, Rasulullah SAW mempercayakan keselamatan hidupnya kepadanya dan Abdullah bin Uraiqith menerima tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan.
Abdullah bin Uraiqith membawa dua ekor unta yang disiapkan oleh Asma binti Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah. Amir bin Fuhairah yang merupakan pembantu Abu Bakar ikut mengantar. Dengan keahliannya menavigasi, Abdullah memilih jalur pesisir Arabia, bukan jalur utama yang biasa dilewati kaum Quraisy menuju Madinah. Jalur ini lebih panjang, namun aman dari mata-mata Qurasiy.
Berdasarkan riwayat, perjalanan dari Jabal Tsur menuju Madinah itu ditempuh selama delapan hari. Di hari ke empat yang diperkirakan bertepatan Senin 12 Rabiul Awal 1 Hijriyah, Rasulullah beristirahat di Quba dan di sambut sahabat dari kalangan Anshor, sebutan bagi penduduk pribumi Kota madinah.
Nabi menetap selama empat hari di Quba. Di tempat itulah, Masjid pertama dibangun oleh Nabi. Masjid Quba, masjid bersejarah yang setiap hari kini dikunjungi puluhan bahkan ratusan ribu peziarah.
(Di lain waktu, Gus Lim juga menceritakan dinamika pembangunan masjid tersebut, dari mulai pembebasan lahan dan seterusnya.)
Kisah perjalanan hijrah Nabi ke Madinah yang dihidupkan kembali oleh Gus Lim itu menyentuh hati jamaah.
Jabal Tsur bukan hanya batu dan pasir. Ia adalah monumen cinta seekor ular yang rindu, burung dan laba-laba yang melindungi, serta sahabat yang rela menderita demi Rasulullah. Semua tunduk kepada Allah, yang menjaga utusan-Nya dengan kasih yang abadi
Langit Makkah semakian terik, dan suara angin di kaki Jabal Tsur seolah masih membawa gema kalimat:
‘La tahzan, innallaha ma’ana’. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Simak rasioo.id di Google News










Komentar