Belajar Diplomasi dari Hudaibiyah: Saat Nabi Menunda Umrah, Tapi Menang Sejarah

 

RASIOO.id — Sore itu, langit Hudaibiyah berwarna keemasan. Angin gurun membawa aroma debu dan kisah lama yang seolah hidup kembali. Di pelataran Masjid Asy-Syumaisi, puluhan jamaah umrah asal Bogor dari Travel Ibnu Aqil berdiri melingkar. Mereka tak hanya bersiap mengambil miqot, tapi juga belajar sejarah dari tempat yang menjadi saksi diplomasi terbesar Nabi Muhammad ﷺ.

“Di sinilah Rasulullah tertahan saat hendak umrah pertama kali,” ujar KH Agus Salim, atau yang akrab disapa Gus Lim, kepada rombongan jamaah, Selasa, 30 September 2025, yang lalu.

Suara beliau lembut tapi penuh makna.
“Beliau tidak datang untuk perang, tapi untuk ibadah. Namun justru di sini, beliau mengajarkan kepada dunia tentang politik sabar dan diplomasi akhlak.”

Ulama dan Pembimbing Umrah

Gus Lim bukan nama asing di kalangan pembimbing ibadah haji dan umrah. Ia dikenal sebagai Dewan Pembina DPP Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (FK KBIHU) — sosok alim yang biasa memadukan sejarah dan spiritualitas dalam ceramahnya.

Dalam rombongan kali ini, ia mengajak jamaah bukan sekadar melihat-lihat situs sejarah, tapi merenungi kembali makna Perjanjian Hudaibiyah, peristiwa yang mengubah arah dakwah Islam.

Baca Juga: KBIHU Dorong Evaluasi Rencana Pengurangan Syarikah oleh Pemerintah

Perjanjian di Tanah Tertahan

Sekitar tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah ﷺ bersama 1.400 sahabat berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan umrah. Mereka datang tanpa senjata, membawa hewan kurban, dan berpakaian ihram — tanda damai, bukan perang.

Namun, kaum Quraisy menolak kedatangan mereka. Rombongan Nabi pun tertahan di kawasan Hudaibiyah, hanya beberapa kilometer dari Tanah Haram. Ketegangan pun meningkat, dan untuk mencegah perang, Nabi mengutus Sayyidina Utsman bin Affan sebagai negosiator.

“Kenapa Utsman yang diutus? Karena beliau masih punya hubungan keluarga dengan Quraisy. Diplomasi itu butuh wajah yang dikenal dan dipercaya,” jelas Gus Lim sambil menatap arah barat daya — arah ke mana Utsman dulu melangkah membawa pesan damai.

Namun, kabar sempat beredar bahwa Utsman dibunuh di Makkah. Para sahabat marah besar dan bersumpah setia kepada Nabi di bawah pohon — peristiwa yang dikenal sebagai Bai’at Ridwan, sumpah kesetiaan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

“Di sini para sahabat mengucap bai’at itu,” lanjut Gus Lim., sambil menunjuk lokasi yang kini dipagari dinding batu tua.

“Tapi Rasulullah tetap sabar. Tidak terbawa emosi, tidak terpancing perang. Tak lama, Utsman kembali dengan selamat, dan dari situlah lahir Perjanjian Hudaibiyah.”

Perjanjian yang Terlihat Kalah, Tapi Menang di Mata Tuhan

Isi perjanjian itu terasa berat bagi sebagian sahabat.

Umat Islam tidak boleh umrah tahun itu, tapi boleh tahun berikutnya.
Jika ada orang Quraisy masuk Islam dan lari ke Madinah, harus dikembalikan. Sebaliknya, jika orang Madinah kembali ke Makkah, tak boleh diminta balik.

“Secara politik, tampak kalah,” kata Gus Lim sambil tersenyum kecil.
“Tapi Nabi tetap menandatanganinya. Karena beliau tahu: kadang kekalahan hari ini adalah cara Allah menyiapkan kemenangan besok.”

“Lagi pula Nabi bersama sahabatnya waktu itu, tidak siap untuk perang,” imbuh dia.

Umroh pun dibatalkan, nabi dan sahabat melakukan tahalul di tempat itu juga.

Tahun berikutnya, Nabi dan sahabatnya melakukan umroh qadha. Melakukan thawaf, shalat sunnah thawaf dua rakaat di depan multajam, dan kemudian sa’i dan tahalul.

Nabi dan sahabatnya tinggal selama tiga hari di Kota Mekkah dan kemudian kembali ke Madinah. Umroh qadha yang dilakukan nabi dan sabahatnya ini mengundang simpatik petinggi Quraish dan sebagian kemudian memeluk agama Islam setelah peristiwa tersebut.

Dua tahun setelah perjanjian Hudaibiyah,  terbukti membawa berkah. Makkah jatuh ke tangan Islam tanpa peperangan. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa peristiwa ini adalah ‘kemenangan yang nyata’:
Inna fatahna laka fathan mubina (QS. Al-Fath: 1).

Hudaibiyah: Madrasah Kesabaran

Bagi jamaah umrah Ibnu Aqil, berhenti di Hudaibiyah bukan hanya agenda perjalanan. Ini seperti madrasah kesabaran di tengah padang pasir.
Sebagian jamaah terdiam, sebagian lain meneteskan air mata.

Bagi KH Agus Salim, peristiwa Hudaibiyah adalah contoh paling nyata dari diplomasi profetik: bagaimana pemimpin menjaga marwah tanpa kehilangan akhlak.
Rasulullah bukan hanya guru spiritual, tapi juga negarawan. Beliau menunjukkan bahwa damai bisa lebih berwibawa dari perang.

Menjelang sore, jamaah bersiap niat ihram.
Suara Labbaik Allahumma labbaik bergema di udara, seolah menjawab gema sejarah dari 14 abad silam.

Nabi tidak sekadar mengajarkan cara ibadah. Beliau mengajarkan cara menjadi manusia yang besar hati — yang bisa menunda marah demi kemenangan yang lebih agung.

Angin sore Hudaibiyah berhembus lembut.
Masjid Asy-Syumaisi perlahan dipenuhi jamaah dari berbagai negara.
Dan di antara mereka, rombongan kecil asal Bogor melangkah dengan hati lapang — membawa pelajaran dari tempat yang sunyi, bahwa kesabaran adalah kemenangan yang tertunda, bukan kekalahan yang dibiarkan.

Masjid Asy-Syumaisi di Hudaibiyah menjadi salah satu tempat miqot bagi jamaah umroh. Lokasinya. Sekitar 27 kilometer dari Masjidil Haram.

 

 

 

Simak rasioo.id di Google News

 

Komentar