Oleh : Saeful Ramadhan
RASIOO.id – Langit membentang tanpa awan, memantulkan cahaya putih menyilaukan di atas hamparan pasir dan batu merah. Angin berembus panas, membawa aroma debu padang yang gersang. Dari kejauhan, samar terdengar suara talbiyah jamaah yang baru tiba, berpadu dengan desir langkah kaki menapak tanah lembah yang penuh sejarah. Disisi lainnya, puluhan pedagang menggoda jama’ah untuk berbelanja.
“Murah,” kata pria dengan jambang menutup pipinya, menawarkan barang dagangan.
Demikian sedikit gambaran ketika puluhan jama’ah umroh asal Bogor di bawah bimbingan KH Agus Salim tiba di Ji’ranah, sekira 22 kilometer dari Masjidil Haram. Rombongan bergegas mengambil wudhu dan sholat sunnah ihram dua rakaat di Masjid Ji’ranah, tempat dimana dulu Nabi melakukan hal yang sama.
Masjid Ji’ranah, menjadi satu tempat miqat yang paling istimewa dalam sejarah Islam. Di lembah inilah Rasulullah SAW pernah singgah sepulang dari Perang Hunain dan Thaif, membawa kemenangan besar sekaligus ujian keikhlasan bagi para sahabat.
Tempat yang tampak tandus ini pernah menjadi saksi mukjizat agung air suci memancar dari jari-jemari Rasulullah SAW, menghidupkan pasukan yang kehausan di tengah panas padang. Dari tangan beliau, mengalir rahmat dan kehidupan.
KH Agus Salim, atau Abi Gus Lim, Dewan Pembina DPP KBIHU, yang juga Pembina Pondok Pesantren Ibnu Aqil Bogor bahkan menyebut Miqat di Ji’ranah merupakan yang paling Afdhol bagi Jama’ah Umroh. Karena di tempat itu Nabi Muhammad mengenakan Ihram dan mengucapkan niat umrah.
Abi Gus Lim berdiri di halaman masjid yang teduh, menatap rombongan jamaah yang baru tiba. Ia mengenakan dua helai kain ihrom, sesekali mengusap keringat di pelipis yang basah oleh terik siang.
“Beginilah kira-kira panasnya saat Rasulullah dan para sahabat berada di sini,” ujarnya dengan nada lembut, suaranya nyaris tertelan desir angin gurun.
Beberapa jamaah berusaha berteduh di balik bayangan menara masjid, sementara lainnya duduk bersandar di dinding, meneguk air mineral yang segera menguap menjadi peluh.
“Bayangkan,” lanjut Abi Gus Lim, “para sahabat ketika itu kehausan. Hewan tunggangan pun kelelahan. Lalu di sinilah, di tempat ini, mukjizat agung terjadi,”
“Nabi meminta sahabatnya untuk mengambil qirbah (kantung air dari bahan kulit yang disamak), kemudian mengalirkan air dari jemarinya ke kantung tersebut,” kata Gus Lim.
Ajaibnya, air itu bukan hanya menghilangkan dahaga, satu dua orang, tapi memenuhi kebutuhan minum dan wudhu ribuan pasukan dan hewan tunggangan. Menurut riwayat, jumlah pasukan Nabi saat singgah di ji’ranah sebanyak 12 ribu orang, dengan rincian 10 ribu pasukan dari Madinah dan 2 ribu orang tambahan dari Penduduk Mekkah yang baru masuk Islam. Selain itu terdapat 24 ribu ekor unta dan 40 ribu ekor kambing hasil rampasan perang.
Baca Juga: Belajar Diplomasi dari Hudaibiyah: Saat Nabi Menunda Umrah, Tapi Menang Sejarah
Harta Rampasan dan Kebijaksanaan Rasulullah
Tak jauh dari tempat mukjizat itu terjadi, di lembah Ji’ranah inilah Rasulullah SAW membagikan harta rampasan perang (ghanimah) setelah kemenangan di Hunain. Harta itu begitu banyak, unta, kambing, emas, dan perak, hingga memenuhi padang Ji’ranah.
Yang menarik, Rasulullah justru memberikan bagian besar kepada kaum Quraisy yang baru masuk Islam, seperti Abu Sufyan dan Safwan bin Umayyah. Sebagian sahabat dari kalangan Anshar sempat merasa heran, bahkan kecewa.
Namun Rasulullah menjelaskan dengan kelembutan yang menyentuh hati:
“Tidakkah kalian ridha bila mereka pulang membawa unta dan kambing, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah ke rumah kalian?”, kata Gus Lim mengutip Hadits Riwayat Muslim.
Abi Gus Lim menegaskan kepada jamaah, “Ji’ranah bukan hanya tempat mukjizat air, tapi juga tempat mukjizat akhlak. Rasulullah memberi bukan karena mereka lebih mulia, tetapi karena beliau ingin meneguhkan iman yang baru tumbuh.”
Menurutnya, kebijakan Nabi ini adalah bentuk rahmah dan visi dakwah, memberi untuk melunakkan hati, bukan menukar keimanan dengan harta.
“Itulah sebabnya Ji’ranah istimewa,” ujar Abi Gus Lim. Tempat ini, menyatukan mukjizat, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam satu peristiwa.
Abi Gus Lim menatap lembah yang sunyi di sebelah utara masjid. “Dari sinilah Rasulullah berniat ihram untuk umrah setelah perang,” katanya, “dengan hati yang tenang, penuh syukur atas kemenangan dan kasih Allah.”
Kalimat itu membuat sebagian jamaah menyeka wajah, bukan menghapus keringat, tapi tetesan air mata yang tetiba mengalir merasai peristiwa tersebut.
Menurut Abi Gus Lim, miqat di Ji’ranah menjadi simbol niat yang lahir dari perjuangan. “Barang siapa berniat ihram di sini dengan hati ikhlas,” ucapnya, “maka ia meneguk kembali rahmat yang dulu mengalir dari tangan Rasulullah.”
Waktu terus berjalan. Matahari yang sejak siang memukul keras kini mulai condong ke barat. Bayangan masjid memanjang, menutupi sebagian halaman. Udara tetap hangat, tapi tak lagi membakar. Burung padang mulai terbang rendah di antara bebatuan. Jamaah yang tadinya diam kini tampak lebih tenang — mungkin karena mereka sedang menyelami makna dari setiap kisah yang baru saja disampaikan.
Abi Gus Lim lantas memimpin jama’ah mengucapkan niat umroh.
“Labbaik Allahumma ‘umratan…” suaranya pelan tapi dalam, menembus udara padang yang tenang.
Serentak jamaah menirukan:
“Nawaitu ‘umratan wa ahramtu biha lillahi ta’ala…”
Dia lantas meminta jama’ah memejamkan mata, menerobos ruang hening dan menancapkan talafuz yang diucap itu ke dalam hati yang paling dalam. Jama’ah yang berniat umroh untuk pribadi dan yang melakukan badal umroh untuk keluarga, saudara dan handai taulan mengikutinya dengan khusyuk.
Di bawah langit Ji’ranah yang mulai menguning, lembah itu kembali hidup oleh gema niat suci. Seolah waktu berhenti — hanya ada niat, harap, dan cinta kepada Allah.
Labaikallahumma labaik, labaikala syarika laka labaik,…..”
kalimat talbiyah menggema. Bunyi serupa yang diucap Nabi dan sahabatnya lebih dari 14 abad yang lalu.
Sebelum menutup tausiyah, Abi Gus Lim juga mengajak jama’ah untuk mendoa’akan rakyat Kabupaten Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor dan terutama mendo’akan Bupati Bogor agar selalu berada di jalan yang di ridhoi Allah SWT dalam menjalan tugas dan kewajibannya.
Jama’ah kemudian kembali menaiki bus yang disediakan travel Ibnu Aqil, bergegas ke Masjidil Haram untuk menuntaskan rukun umroh. Thawaf mengelilingi kakbah dan sa’i di antara bukit shafa dan marwah, kemudian tahalul memotong rambut sebagai penanda tuntasnya umroh di hari ketiga, Rabu, 1 Oktober 2025.
Simak rasioo.id di Google News










Komentar