RASIOO.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto resmi memasang ornamen kujang raksasa setinggi 14 meter pada Tugu Pancakarsa, Simpang Sirkuit Sentul, Kecamatan Babakan Madang.
Ornamen ini mengusung dapuran Kujang Ciung Mata 3, salah satu varian kujang paling dikenal dalam khasanah budaya Sunda.
Pemasangan ornamen tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Bogor memperindah ruang publik sekaligus memperkuat identitas daerah melalui simbol-simbol budaya lokal.
Filosofi Kujang Ciung: Cahaya, Kehidupan, dan Ketuhanan
Kata “Ciung” merujuk pada personifikasi seekor burung ciung. Dalam aksara Sunda, kata Ciung tersusun dari aksara Ca-Ya-Wa-Nga, yang memiliki makna filosofis mendalam:
Ca: Cahaya
Ya: Hurip atau kehidupan
Wa: Salaput Tunggal, Hawa, atau Udara
Nga: Nu Kawasa atau Yang Maha Kuasa
Rangkaian makna tersebut menggambarkan konsep Ca’ang, yaitu kondisi kesempurnaan batin dalam ajaran udagan kasamapurnaan—melepas nafsu duniawi dan mencapai kesucian hidup.
Tokoh atau individu yang mencapai tingkat ini digambarkan sebagai manusia paripurna yang mampu memberikan tuntunan bagi masyarakat melalui perilaku dan ajaran hidupnya.
Kujang Ciung dalam Sejarah dan Kearifan Lokal
Kujang Ciung merupakan salah satu bentuk kujang yang paling banyak ditemukan. Bentuknya yang menyerupai burung ciung mengaitkan langsung pada tokoh legendaris Ciung Wanara, atau Sang Manarah—sosok sentral dalam babak Banjarnagara yang dikenal sebagai Maharaja Panunggalan.
Secara tradisi, Kujang Ciung dipercaya sebagai kujang pusaka penolak bala, yang merepresentasikan perlindungan, kekuatan batin, dan keselarasan.
Dalam konteks kenegaraan purba, Ciung menjadi landasan filosofis dalam tatanan negara Sunda lama. Ciung Wanara mendirikan Kerajaan Galuh di Panjalu pada masa Banjar Pataruman.
Melalui ajaran dan keilmuannya, terbentuk konsep Nagara Kerta Gama — tatanan negara berdasarkan nilai luhur agama dan moralitas.
Sejumlah data sejarah menguatkan penggunaan istilah Ciung dalam kujang, di antaranya tokoh:
Raden Manarah (Sang Manarah)
Mangkubumi Surapati
Ciung Wanara
Prabu Kuda Lelean
Pada masa penyatuan Sunda dan Galuh melalui Perjanjian Galuh tahun 739 M, wilayah Jawa Kalwan atau Jawa Kulon dikenal sebagai Kerajaan Mangkukuhan.
Di masa itu, Prabu Kuda Lelean disebut mendapat ilham untuk merancang ulang bentuk kujang mengikuti bentuk Djawa Dwipa (Pulau Jawa), yang kemudian menjadi cikal bakal ragam dapuran kujang yang dikenal saat ini.
Simbol Identitas Budaya Bogor
Dengan hadirnya ornamen Kujang Ciung setinggi 14 meter di Tugu Pancakarsa, Pemkab Bogor berharap ikon baru ini tidak hanya mempercantik kawasan Simpang Sirkuit Sentul, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai filosofi dan sejarah panjang kujang sebagai identitas masyarakat Sunda, khususnya Kabupaten Bogor.
Ornamen tersebut sekaligus menguatkan pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berorientasi fisik, tetapi juga berakar pada nilai budaya dan sejarah yang diwariskan leluhur.
Simak rasioo.id di Google News










Komentar