Cerita Kawanku Tentang Kawan Temannya

 

Kawanku punya teman, temannya punya kawan. Mahasiswa terakhir fakultas dodol. Lagaknya bak profesor, pemikir jempolan. Selintas seperti sibuk mencari bahan skripsi, eh bahan gosip.

 

RASIOO.id – Lagu dengan iringan gitar khas Iwan Fals itu, berhenti kami mainkan gegara teman yang datang nampak tergopoh-gopoh.

Seorang kawan kami itu lantas bercerita, dengan wajah setengah kesal setengah menertawakan diri sendiri. Ia bercerita tentang kawan temannya. Ia berkata, “temannya itu yang kalau ketemu selalu bilang, ‘Tenang saja, saya di belakang kamu.’ Eh, benar saja, dia memang di belakang, menusuk.” Kami tertawa, bukan karena kejam, tetapi karena kisah itu terasa terlalu akrab untuk tidak dikenali.

Di republik pertemanan, iri sering berlagak seperti ideologi. Ia tidak diumumkan, tapi dijalankan. Ia bekerja senyap, disiplin, dan penuh strategi. Terutama ketika melihat teman sendiri mulai naik panggung, entah panggung organisasi, panggung jabatan, atau sekadar panggung perhatian.

Tidak perlu heran, sebab di negeri ini, menusuk dari belakang sudah lama menjadi metode resmi, hanya belum dilegalkan undang-undang.

Teman yang iri jarang menyerang terang-terangan. Ia terlalu pintar untuk itu. Ia lebih suka rapat kecil, obrolan lorong, dan bisik-bisik berkedok evaluasi. Di depan, ia memuji; di belakang, ia menyusun narasi. Ia tidak ingin menjatuhkan secara frontal, cukup membuat orang lain ragu pada kita.

Dalam dunia politik dan organisasi, tipe ini sangat laku. Ia pandai berkata “demi kebaikan bersama”, sambil diam-diam memastikan kebaikan itu tidak lebih besar jatuh ke tangan orang lain. Jika temannya berhasil, ia menyebutnya hasil sistem. Jika temannya gagal, ia buru-buru menunjuk individu.

Ada anekdot yang nyaris menjadi hukum tak tertulis. Seorang aktivis berkata, “Di rapat, dia setuju semua usulan saya. Di luar rapat, dia bilang saya terlalu ambisius.”

Ambisi, rupanya, hanya boleh dimiliki oleh dirinya sendiri. Orang lain cukup menjadi figuran.

Iri dalam politik pertemanan selalu merasa paling bermoral. Ia menyebut pengkhianatan sebagai sikap kritis. Ia menyebut kecemburuan sebagai kewaspadaan. Ia bahkan menyebut adu domba sebagai dinamika demokrasi.

Bahasa menjadi tameng, etika dijadikan slogan.

Yang lebih menyedihkan, iri sering lahir dari rasa kalah sebelum bertarung. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena malas berproses. Maka ketika melihat temannya melangkah lebih jauh, yang diserang bukan ketidakmampuannya sendiri, melainkan reputasi orang lain.

Namun refleksi ini juga patut kita arahkan ke cermin. Sebab bisa jadi, dalam skala kecil, kita pernah menikmati kegagalan teman. Pernah merasa lega saat orang lain tergelincir. Iri adalah penyakit sosial yang menular, terutama di ruang-ruang yang menjanjikan kekuasaan.

Pengalaman berhadapan dengan kawan yang iri memang pahit, tapi mendewasakan. Ia mengajarkan bahwa solidaritas tanpa integritas hanyalah koalisi sementara. Bahwa senyum bisa menjadi alat politik. Dan bahwa tidak semua yang duduk di sebelah kita benar-benar berada di pihak kita.

Pada akhirnya, dalam pertemanan—seperti juga dalam politik—yang paling berbahaya bukanlah lawan yang terang-terangan, melainkan kawan yang iri. Ia tidak menyerang gagasan, tapi karakter. Tidak membantah kerja, tapi membisikkan keraguan.

Maka jika suatu hari Anda melangkah maju dan mendapati sebagian kawan mendadak sibuk meragukan, jangan heran. Di negeri ini, orang yang bergerak selalu lebih mudah dicurigai daripada mereka yang diam sambil menggunting dari belakang.

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar

Rekomendasi Untuk Anda