RASIOO.id – Ibarat sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga bau busuk yang menyengat. Hal ini mungkin saya cocok jika disematkan ke jajaran PT Antam Tbk di Bogor.
Usai kasus mega korupsi emas yang tahun 2025 dengan 13 tersangka yang merugikan negara senilai 1,26 T, kini kebocoran lobang emas yang diduga bermain dengan pihak internal PT Antam sampai mengakibatkan korban tewas dari warga sipil seakan dibayar dengan harga murah.
Seiring berjalannya waktu, teka-teki terkait kabar adanya korban jiwa dalam insiden kepulan asap di area pertambangan emas PT Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, akhirnya terkuak. Setelah sebelumnya dinyatakan nihil korban, fakta di lapangan justru mengungkap kabar duka.
Kepala Desa Bangun Jaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Haji Abdul Halim, membenarkan bahwa enam warganya meninggal dunia diduga akibat menghirup asap dari lubang tambang di kawasan Pongkor.
“Ya betul, warga Bangun Jaya Kampung Cimapag Hilir ada enam orang,” ujar Abdul Halim kepada awak media dengan nada prihatin.
Seluruh korban diketahui berasal dari kampung yang sama, yakni Kampung Cimapag Hilir, Desa Bangun Jaya. Fakta ini mengindikasikan bahwa aktivitas penambangan yang dilakukan diduga secara berkelompok oleh warga setempat, yang selama ini dikenal sebagai aktivitas penambangan ilegal atau gurandil.
Pengakuan kepala desa tersebut menjadi antitesis dari sejumlah pernyataan awal yang menyebutkan situasi aman dan tidak menimbulkan korban jiwa. Informasi ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa kabar korban meninggal hanyalah isu atau rumor semata.
Sementara itu, PT Antam Tbk sebelumnya telah mengeluarkan klarifikasi resmi terkait video yang beredar di media sosial mengenai dugaan gas beracun dan korban massal di area tambang Pongkor.
Corporate Secretary PT Antam Tbk, Wisnu Danandi, menegaskan bahwa informasi yang menyebut adanya ledakan, gas beracun, serta ratusan orang terjebak di dalam tambang adalah tidak benar.
“Informasi yang beredar di media sosial maupun beberapa pemberitaan terkait adanya ledakan di area tambang serta klaim ratusan orang terjebak di dalam tambang adalah tidak benar atau hoaks,” ujar Wisnu dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, video yang beredar merupakan dokumentasi penanganan kondisi teknis di area tambang bawah tanah yang telah diantisipasi sesuai prosedur keselamatan dan standar operasional perusahaan, termasuk pengaturan ventilasi dan pengamanan area kerja.
“Kondisi tersebut tidak berdampak pada keselamatan karyawan Antam, dan seluruh aktivitas operasional perusahaan berada dalam kondisi terkendali,” tambahnya.
Meski demikian, munculnya korban jiwa dari kalangan warga sipil memunculkan pertanyaan serius terkait pengawasan, pengamanan lubang bekas tambang, serta dugaan adanya kebocoran pengendalian aktivitas tambang yang berpotensi melibatkan oknum internal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum terkait status hukum insiden tersebut maupun kemungkinan penyelidikan lanjutan atas dugaan kelalaian atau pelanggaran yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Kabut duka kini menyelimuti Desa Bangun Jaya. Enam nyawa melayang, meninggalkan luka mendalam sekaligus tuntutan akan transparansi dan keadilan.









Komentar