Hujan Seharian Rendam Batusari,  30 KK  Bertahan di Genangan Air

 

RASIOO.id – Hujan deras yang turun tanpa jeda sejak pagi hingga malam kembali menghantui warga RT 05/RW 03, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Air perlahan naik, lalu meluap, merendam permukiman warga yang tak sempat bernapas dari ancaman banjir tahunan.

Sedikitnya 30 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sepanjang Kamis, 22 Januari 2026.

Kawasan ini memang dikenal sebagai daerah rawan genangan setiap kali hujan turun seharian.

Ketua RT 05/03, Rusli, menyebut wilayahnya berada di jalur daratan rendah sehingga menjadi muara aliran air dari kawasan sekitarnya.

“Kalau perkiraan dari lingkungan RT saya ini, sekitar 30 KK terdampak. Memang dari selatan ini posisinya rendah,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Uci itu menjelaskan, ketinggian air bervariasi. Di sejumlah titik, genangan mencapai mata kaki, namun di lokasi lain air naik hingga selutut bahkan nyaris sepaha orang dewasa, terutama saat hujan berada di puncaknya.

“Tidak merata, ada yang betis, ada yang selutut, bahkan tadi sempat hampir sepaha,” tambahnya.

Tak hanya RT 05, banjir juga meluas ke wilayah lain di RW 03. Setidaknya empat RT—RT 02, 03, 04, dan 05—ikut terdampak, seluruhnya berada di bagian selatan yang lebih rendah secara kontur tanah.

“Kalau yang di utara masih terbantu karena ada Embung Batusari. Tapi untuk selatan ini, air seharusnya tertahan di lahan kosong. Masalahnya sekarang sudah banyak pembangunan, drainase tidak menyanggupi, akhirnya air meluap,” jelas Uci.

Menurutnya, banjir yang berulang ini bukan semata akibat hujan deras, melainkan juga buruknya drainase dan tata ruang wilayah. Ia mengungkapkan, aliran air ke arah timur tersendat akibat keberadaan rel kereta api dan jalan tol.

“Air ke timur kehalang rel sama tol. Harusnya sebelum pembangunan itu, drainase diperbesar dulu. Sekarang kita malah kesulitan mau bikin saluran baru,” katanya.

Uci juga menyoroti kondisi Jalan Juanda, yang sebelumnya memiliki dua jalur drainase menuju selatan. Namun kini, satu saluran sudah terurug dan tidak lagi berfungsi.

“Harusnya waktu pembangunan Jalan Juanda itu drainasenya disiapkan dulu. Tapi ini langsung dibangun, akhirnya air nggak punya jalur,” bebernya.

Meski warga rutin menggelar kerja bakti dua bulan sekali, banjir tetap tak terelakkan ketika hujan deras mengguyur lama.
Sebagai langkah darurat, pemerintah akhirnya menurunkan mesin penyedot air ke lokasi.

“Alhamdulillah, hari ini saya langsung komunikasi dengan Pak Lurah dan kecamatan, ditanggapi cepat. Mesin sedot sudah datang,” pungkas Uci.

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar