Ravindra Airlangga serukan Mitigasi Hanta Virus melalui skrining di Pintu Negara dan Menjaga Sanitasi Lingkungan

RASIOO.id – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan pernyataan resmi terkait kasus Hantavirus varian Andes yang ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia Argentina. Beliau menilai saat ini risiko kesehatan masyarakat secara global berada pada tingkat yang rendah. Beliau juga menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah permulaan dari pandemi global baru seperti covid-19.Meskipun secara “Angka Reproduksi Dasar” (Ro) hantavirus secara umum jauh lebih rendah dari Covid-19, langkah mitigasi yang paripurna harus dipersiapkan pemerintah, dalam hal ini Kemenkes.

Perlu diketahui bahwa ketika kita berbicara tentang Hantavirus, maka ada dua varian yang kita perhatikan. Varian yang ditemukan pada MV Hondius adalah Varian Andes dan ini merupakan satu satunya varian Hantavirus yang dapat menyebar melalui kontak manusia secara erat dan berkepanjangan. Varian ini berasal dari latin amerika dan menyebabkan cardiopulmonary syndrome, dan memiliki Case Fatality rate lebih tinggi (35-40% di daerah endemic /Case Fatality Rate pada MV Hondius 27%) dari varian Seoul. Kasus varian andes saat ini belum terdeteksi di Indonesia.

Sedangkan kasus di Indonesia merupakan tipe HFRS strain Seoul Virus (1-2% CFR globally , 13% CFR of the 23 INA confirmed patients) yang ditularkan oleh tikus got (rattus norvegicus) dan tikus perkotaan (rattus rattus)secara zoonosis. Penularan hanya memungkinkan dari hewan ke manusia. Varian ini umumnya ditemukan di negara negara eropa dan asia.

Sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 tercatat ada 23 kasus terkonfirmasi positif tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh dan 3 orang meninggal dunia. Kasus tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur (9 Provinsi dengan konsentrasi tertinggi di Jakarta/Jawa Barat).

Komisi IX DPR RI mendorong dalam rangka mencegah masuknya hantavirus varian andes ke Indonesia, mendorong balai kekarantinaan kesehatan untuk siaga pada setiap pintu masuk negara: bandara internasional dan pelabuhan laut. DPR mendorong melaksanakan skrining kesehatan komprehensif terhadap penumpang kapal laut maupun pesawat, khususnya yang memiliki riwayat perjalanan dari negara negara berisiko tinggi seperti Amerika Selatan, serta ada kontak erat historis dengan confirmed case.

Dalam rangka mitigasi HFRS varian Seoul, Komisi IX mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan fasilitas sanitasi, pengelolaan lingkungan, pengendalian populasi tikus, serta pengawasan kesehatan di titik-titik rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, kawasan padat penduduk, dan wilayah pasca banjir.
Kita membutuhkan sistem mitigasi nasional yang lebih terintegrasi, mulai dari surveilans, laboratorium, kesiapan rumah sakit, hingga respons cepat di daerah. Ketahanan kesehatan nasional harus menjadi bagian penting dari ketahanan negara. Jadikan sebuah berita yang sangat menarik dengan bacaan yang menarik dan judul yang menarik

WHO Tegaskan Hantavirus Andes Bukan Awal Pandemi Baru, DPR RI Minta Indonesia Perkuat Sistem Mitigasi Nasional
Kekhawatiran dunia terhadap munculnya kasus Hantavirus varian Andes di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, mulai mendapat penjelasan resmi. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa risiko kesehatan masyarakat global saat ini masih berada pada tingkat rendah dan situasi tersebut belum mengarah pada ancaman pandemi baru seperti Covid-19.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam respons atas ditemukannya kasus Hantavirus varian Andes di kapal ekspedisi yang membawa penumpang internasional tersebut. WHO menilai, meskipun virus ini perlu diwaspadai secara serius, karakteristik penularannya masih jauh lebih terbatas dibanding Covid-19.

Ravindra Airlangga, dalam pernyataan resminya pada 19 Juni 2026 menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tetap harus mengambil langkah mitigasi maksimal guna mencegah masuknya varian Andes ke tanah air.

“Hantavirus memang memiliki angka reproduksi dasar atau basic reproduction number (Ro) yang lebih rendah dibanding Covid-19. Namun pemerintah tetap harus menyiapkan mitigasi yang paripurna agar Indonesia tidak kecolongan,” ujarnya.

Varian Andes Lebih Mematikan
Ravindra menjelaskan, Hantavirus memiliki dua varian utama yang menjadi perhatian dunia kesehatan, yakni varian Andes dan strain Seoul Virus.

Varian Andes yang ditemukan pada MV Hondius merupakan satu-satunya jenis Hantavirus yang dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan. Virus ini berasal dari kawasan Amerika Latin dan diketahui menyebabkan cardiopulmonary syndrome dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) yang sangat tinggi.

Di wilayah endemik, CFR varian Andes mencapai 35 hingga 40 persen, sementara pada kasus di MV Hondius tercatat sebesar 27 persen. Hingga kini, varian Andes disebut belum terdeteksi di Indonesia.

Sementara itu, kasus Hantavirus di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus yang penularannya berasal dari hewan ke manusia atau zoonosis. Virus ini umumnya dibawa oleh tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus perkotaan (Rattus rattus).

“Penularan strain Seoul tidak terjadi dari manusia ke manusia. Risiko utamanya berasal dari lingkungan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus yang tinggi,” jelasnya.

23 Kasus Terdeteksi di Indonesia
Data nasional menunjukkan bahwa sejak tahun 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026, Indonesia mencatat 23 kasus terkonfirmasi positif HFRS strain Seoul Virus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga orang meninggal dunia.

Kasus tersebar di sembilan provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Konsentrasi kasus tertinggi tercatat berada di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Meski jumlah kasus masih relatif terbatas, DPR RI meminta pemerintah tidak menganggap enteng ancaman tersebut, terutama dengan tingginya mobilitas internasional melalui jalur udara maupun laut.

DPR Minta Pengawasan Ketat di Pintu Masuk Negara
Komisi IX DPR RI mendorong Balai Kekarantinaan Kesehatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di seluruh pintu masuk negara, baik bandara internasional maupun pelabuhan laut.

Pemerintah juga diminta melakukan skrining kesehatan komprehensif terhadap penumpang pesawat dan kapal laut, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari negara berisiko tinggi seperti kawasan Amerika Selatan serta memiliki kontak erat dengan kasus terkonfirmasi.

Selain itu, DPR juga meminta adanya penguatan mitigasi terhadap HFRS strain Seoul melalui kolaborasi lebih erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Langkah yang didorong meliputi peningkatan sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah, pengendalian populasi tikus, hingga pengawasan kesehatan di kawasan rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, wilayah padat penduduk, dan daerah pasca banjir.

“Kita membutuhkan sistem mitigasi nasional yang lebih terintegrasi, mulai dari surveilans, laboratorium, kesiapan rumah sakit, hingga respons cepat di daerah. Ketahanan kesehatan nasional harus menjadi bagian penting dari ketahanan negara,” tegas Ravindra Airlangga.

“Hantavirus memang memiliki angka reproduksi dasar (Ro) yang lebih rendah dibanding Covid-19. Namun pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, tetap harus menyiapkan mitigasi yang paripurna untuk mencegah masuknya varian Andes ke Indonesia. Semoga virus tersebut tidak masuk dan tidak menyebar di Indonesia,” ujarnya.

Komentar