Dalam setiap berita kriminal dan politik, selalu ada satu hal yang jarang masuk naskah: apa yang terjadi di dalam diri pelakunya sebelum peristiwa itu terjadi. Kita sibuk mencatat kronologi, pasal, dan ancaman hukuman, tapi jarang bertanya pada satu pertanyaan paling mendasar: ke mana perginya dhomir?
RASIOO.id – Dhomir—atau suara batin—bekerja jauh sebelum garis polisi dipasang dan sebelum konferensi pers digelar. Ia hadir di momen-momen sunyi: sebelum suap diberikan, sebelum tanda tangan dibubuhkan, sebelum keputusan “nekat” diambil. Ia tidak bicara panjang. Biasanya hanya satu kalimat pendek: ini tidak pantas.
Masalahnya, dalam banyak kasus kriminal dan politik, suara itu kalah cepat. Nafsu bicara soal keuntungan, kuasa, dan keselamatan diri. Akal lalu bekerja rapi, mencarikan alasan: demi organisasi, demi keluarga, demi stabilitas, demi “semua juga begitu”. Ketika alasan sudah terasa masuk akal, dhomir pun didorong ke pinggir, pelan tapi pasti.
Kita sering heran melihat pelaku kejahatan yang tampil tenang, bahkan percaya diri. Sebagian masih sempat tersenyum di depan kamera, seolah yang terjadi hanyalah salah paham administratif. Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal keberanian atau kecerdikan, tapi ketiadaan rasa tidak enak hati. Dhomir bukan sekadar tumpul, tapi seperti sudah dilatih untuk diam.
Fenomena ini juga terlihat dalam politik. Banyak keputusan kontroversial lahir bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kompromi batin yang terlalu sering dilakukan. Awalnya ragu, lalu terbiasa. Awalnya berat, lalu ringan. Sampai akhirnya, yang salah terasa normal selama dilakukan bersama-sama.
Ironisnya, hukum sering dijadikan satu-satunya standar moral. Selama belum ada pasal yang dilanggar, semuanya dianggap aman. Padahal dhomir bekerja di wilayah yang lebih awal dan lebih halus. Hukum bergerak setelah kejadian. Dhomir seharusnya bekerja sebelum semuanya terjadi.
Dalam banyak kasus kriminal, pelaku bukan tidak tahu risikonya. Mereka tahu. Mereka paham. Tapi pengetahuan tanpa dhomir hanya melahirkan kejahatan yang rapi. Akal tanpa suara hati hanya menghasilkan pelanggaran yang sistematis.
Yang lebih mengkhawatirkan, masyarakat perlahan ikut terbiasa. Kasus datang dan pergi. Istilah “oknum” jadi penenang massal. Rasa kaget digantikan rasa lelah. Ketika itu terjadi, bukan hanya pelaku yang kehilangan dhomir publik pun mulai kebal.
Padahal, kejahatan jarang lahir dari niat besar. Ia tumbuh dari pembiaran kecil yang berulang. Dari satu kebohongan yang dimaafkan, satu pelanggaran yang dimaklumi, satu keputusan yang ditoleransi karena dianggap wajar.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti hanya bertanya siapa yang salah, dan mulai bertanya di titik mana dhomir berhenti bekerja. Karena sebelum kriminalitas menjadi perkara hukum, dan sebelum politik menjadi perkara etik, semuanya bermula dari satu ruang sunyi dalam diri manusia.
Jika di ruang itu tidak lagi ada suara yang menegur, maka pasal dan jabatan hanya tinggal urusan teknis. Selebihnya, kita hanya menunggu giliran berita berikutnya.
Simak rasioo.id di Google News











Komentar