RASIOO.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengantisipasi potensi bencana alam yang berulang akibat tingginya intensitas hujan sejak awal tahun 2026. Langkah kesiapsiagaan ini dilakukan menyusul prediksi puncak curah hujan yang diperkirakan terjadi pada Februari.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan meskipun hujan telah mengguyur wilayah Bogor sepanjang Januari, intensitas tertinggi justru diprakirakan terjadi pada Februari.
“Titik tertinggi curah hujan di Bogor itu biasanya terjadi pada Februari. Kami mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan seperti bantaran sungai, sekitar setu, tebingan, serta daerah rawan gerakan tanah agar meningkatkan kewaspadaan,” ujar Ajat, Minggu, 1 Februari 2026.
Ajat menjelaskan, Pemkab Bogor telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya dengan pemasangan sistem peringatan dini banjir di daerah rawan.
“Kami sedang menginisiasi pemasangan alarm banjir di DAS Cileungsi, wilayah Bojong Kulur. Sistemnya berupa alarm banjir dari KP2C yang merupakan hibah dari Jepang,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Bogor juga membuka kemungkinan kembali melakukan modifikasi cuaca apabila intensitas hujan dinilai terus meningkat, sebagaimana yang dilakukan pada tahun 2025 lalu.
“Kita lihat situasi dan kondisi. Tahun lalu modifikasi cuaca dilakukan karena frekuensi dan durasi hujan cukup panjang, sehingga perlu upaya pengurangan volume curah hujan,” paparnya.
Untuk mendukung upaya penanggulangan bencana, Pemkab Bogor telah menyiapkan anggaran dana kebencanaan sebesar Rp80 miliar pada tahun 2026.
“Untuk tahun 2026, kami mengalokasikan anggaran sekitar Rp80 miliar. Saat ini masih dalam proses pencairan dan sebagian sudah digunakan untuk penanganan bencana di Sukamakmur,” tutup Ajat.
Simak rasioo.id di Google News















Komentar