Dampak Iran Blokade Selat Hormuz: Harga Minyak Naik, Indonesia Siaga

RASIOO.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Hingga Selasa, 3 Maret 2026, Selat Hormuz dilaporkan berada dalam kondisi blokade de facto yang melumpuhkan sebagian besar lalu lintas energi global.

Jalur sempit namun vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. Kini, situasinya berubah drastis.

IRGC Umumkan Penutupan

Penutupan diumumkan secara resmi oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Sabtu, 28 Februari 2026. Langkah ini disebut sebagai aksi balasan atas serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Komandan senior IRGC, Jenderal Sardar Jabbari, mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya akan “membakar kapal apa pun” yang mencoba melintas tanpa izin dan bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur pipa minyak di kawasan tersebut.

Meski secara hukum internasional tidak ada deklarasi blokade formal, situasi keamanan yang memburuk membuat jalur ini praktis lumpuh. Lebih dari 200 kapal tanker dilaporkan telah menjatuhkan sauh atau berbalik arah, menyusul meningkatnya risiko serangan dan hilangnya jaminan asuransi perang yang akan berlaku efektif pada 5 Maret.

Seperlima Pasokan Minyak Dunia Terancam

Dampaknya langsung terasa di pasar global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, termasuk sebagian besar ekspor LNG dari Qatar dan negara-negara Teluk lainnya.

Dalam hitungan jam setelah pengumuman penutupan, harga minyak mentah dunia melonjak hingga 10 persen. Sejumlah analis energi internasional memperkirakan, jika gangguan berlangsung lama, harga bisa menembus USD 200 per barel — angka yang berpotensi memicu krisis energi global.

Perusahaan pelayaran internasional pun mulai mengalihkan rute kapal memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika. Konsekuensinya, biaya logistik melonjak dan waktu tempuh pengiriman energi bertambah signifikan.

Indonesia Waspada Dampak Berantai

Sebagai negara importir neto minyak, Indonesia ikut merasakan dampak dari krisis ini. Pemerintah RI dilaporkan menggelar rapat darurat guna mengantisipasi lonjakan harga BBM dan gas domestik.

Selain tekanan terhadap sektor energi, potensi pelemahan rupiah dan gangguan distribusi pupuk global — yang juga banyak melewati jalur tersebut — menjadi perhatian serius.

Pengamat ekonomi menilai, jika situasi di Selat Hormuz tidak segera mereda, efek domino terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tak bisa dihindari.

Jalur Vital Dunia di Ujung Ketidakpastian

Selat Hormuz selama puluhan tahun menjadi simbol stabilitas sekaligus kerentanan sistem energi global. Kini, dunia kembali diingatkan bahwa satu titik sempit di peta dapat mengguncang ekonomi internasional.

Pasar menanti langkah diplomasi dan respons militer berikutnya. Sementara itu, harga energi terus bergejolak, dan bayang-bayang krisis global semakin nyata.

Komentar