RASIOO.id – Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya, menghadiri malam puncak Festival Cap Go Meh (CGM) 2026 di Kota Bogor, Selasa 03 Maret 2026. Kehadirannya menjadi sorotan dalam perayaan yang tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Hotel 101, Bima Arya menilai perayaan Cap Go Meh di Bogor selalu menghadirkan energi kebersamaan yang kuat. Namun tahun ini, menurutnya, ada makna yang lebih dalam: kolaborasi yang dibalut toleransi.
“Di Indonesia ini ada cukup banyak kota yang dikenal Cap Go Meh-nya meriah, seperti Surabaya, Bandung, Manado, Bekasi. Tapi yang dianggap terbesar di Indonesia ini adalah dua, yaitu Singkawang dan Kota Bogor,” ujar Bima.
Ia menegaskan, kekuatan utama Bogor selama ini terletak pada sinergi antara masyarakat, komunitas, dan Pemerintah Kota. Kolaborasi tersebut telah terjalin bertahun-tahun dan menjadi fondasi kokoh dalam setiap perayaan budaya.
Namun pada CGM 2026, konsepnya berkembang lebih jauh. Ramadan yang berjalan bersamaan dengan rangkaian Imlek justru menjadi ruang untuk menunjukkan indahnya toleransi.
“Tidak saja kolaborasinya, tapi juga toleransinya. Karena bertepatan di bulan Ramadan, teman-teman panitia menyesuaikan dengan sangat cantik dan elegan,” tuturnya.
Panitia, lanjut Bima, menghadirkan bazar Ramadan dan menyesuaikan jadwal pawai setelah salat Tarawih. Bahkan, nuansa Islami turut mengiringi rangkaian acara sebelum pawai dilepas secara resmi.
“Tadi kami sama-sama menunaikan salat Tarawih dulu, kemudian nanti juga ada nuansa Islami yang mengiringi pawai,” tambahnya.
Bima Arya menilai, momen seperti ini sangat penting di tengah tantangan global dan nasional yang sarat perbedaan pandangan serta potensi konflik. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terjebak pada perbedaan semata, melainkan memperkuat ruang-ruang kebersamaan.
“Saat ini bangsa ini harus lebih banyak lagi momen kebersamaan. Tantangannya berat, di mana-mana perang, potensi berbeda pendapat itu besar. Tapi kalau hanya melihat perbedaan, tidak akan ada ujungnya,” ungkapnya.
Menurutnya, Cap Go Meh 2026 di Kota Bogor menjadi contoh nyata bagaimana tradisi bisa dirawat tanpa meninggalkan semangat saling menghormati. Harmoni antara budaya Tionghoa dan nilai-nilai Ramadan menghadirkan wajah Bogor yang hangat dan inklusif.
“Saya bangga melihat tradisi yang dijaga oleh Kota Bogor,” tutupnya.
Perayaan malam itu bukan sekadar pesta budaya, melainkan simbol kuat bahwa di tengah keberagaman, kebersamaan tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.














Komentar