RASIOO.id – Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan setelah mengalami fluktuasi tajam pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Setelah sempat melonjak drastis hingga menembus US$119 per barel di awal pekan, harga minyak kini mulai terkoreksi namun masih berada di level tinggi akibat memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan konflik antara koalisi Amerika Serikat–Israel melawan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Pasar minyak pun bergerak sangat volatil karena investor khawatir jalur distribusi utama minyak dunia akan terganggu.
Update Harga Minyak Dunia
Berdasarkan perkembangan pasar terbaru pada hari ini, harga minyak masih berada di kisaran tinggi meskipun telah mengalami penurunan dari puncaknya.
Brent Crude berada di kisaran US$87 – US$90 per barel
WTI (West Texas Intermediate) diperdagangkan di kisaran US$83 – US$86 per barel
ICP (Indonesian Crude Price) berada di sekitar US$68 per barel
Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa pasar masih diliputi ketidakpastian yang cukup besar.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Lonjakan harga minyak dipicu oleh memanasnya konflik di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Salah satu faktor paling krusial adalah ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, distribusi minyak global bisa mengalami dampak besar.
Selain itu, sejumlah produsen utama minyak di kawasan Timur Tengah dilaporkan telah mengurangi produksi secara kolektif lebih dari 6 juta barel per hari, yang semakin memperketat pasokan di pasar global.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan intervensi militer di kawasan Selat Hormuz juga sempat memicu kepanikan pasar dan membuat harga minyak melonjak tajam pada awal pekan.
IEA Siapkan Langkah Darurat
Untuk meredam lonjakan harga, Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan langkah besar dengan merilis cadangan minyak strategis hingga 400 juta barel.
Jika rencana ini disetujui, langkah tersebut akan menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah.
Negara-negara anggota G7 secara prinsip mendukung rencana tersebut sebagai upaya menstabilkan pasar energi global. Namun, keputusan final masih menunggu proses pemungutan suara dari seluruh anggota IEA.
Dampak bagi Indonesia
Di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah Indonesia memilih mengambil langkah perlindungan terhadap masyarakat.
Pemerintah memutuskan menambah subsidi energi agar harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan setidaknya hingga Idul Fitri 2026.
Sementara itu, untuk BBM non-subsidi, Pertamina telah melakukan penyesuaian harga pada 1 Maret 2026, khususnya untuk produk Pertamax dan Dex, mengikuti tren harga minyak global.
Kondisi pasar energi saat ini diperkirakan masih akan bergerak sangat dinamis dalam beberapa waktu ke depan. Para analis memperkirakan harga minyak bisa kembali melonjak apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas atau jika pasokan global semakin tertekan.









Komentar