RASIOO.id – Di balik sorot mata yang tajam dan penuh pesona, tersimpan kisah luar biasa dari seorang remaja bernama Kyla Sherafina. Di usia 18 tahun, Kyla membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan meraih prestasi.
Kyla merupakan remaja dengan disabilitas intelektual. Namun, siapa sangka, dari balik kondisi tersebut justru lahir bakat besar di dunia modeling. Bakat itu ditemukan secara tidak sengaja oleh sang ibu, Eko Yus Samanti Ningsih, yang sejak kecil melihat Kyla gemar meniru aktivitas kakaknya saat berdandan.
“Tiba-tiba fotografer bilang, ‘Ini anak fotogenik, Bu. Matanya kuat banget kalau difoto,’” kenang Eko.
Sejak saat itu, perjalanan Kyla di dunia modeling mulai terbuka. Meski harus menempuh perjalanan dari Bogor ke Jakarta hampir setiap akhir pekan demi mengikuti kelas, semangatnya tak pernah surut. Usaha tersebut berbuah manis, Kyla berhasil meraih berbagai penghargaan dari ajang modeling, termasuk di Festival Merah Putih.
Namun, prestasi Kyla tidak berhenti di atas panggung. Di sisi lain, ia juga menunjukkan kreativitas luar biasa dalam dunia usaha mikro. Dengan ketelatenan, Kyla mampu merangkai manik-manik menjadi berbagai produk menarik seperti gelang, gantungan ponsel, hingga dompet koin berbahan daur ulang.
Yang lebih membanggakan, karya-karyanya tidak hanya diminati di tingkat lokal. Produk buatan Kyla bahkan pernah menembus pasar internasional hingga ke Hongkong setelah dipamerkan dalam ajang UMKM.
Dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp5 ribu, hasil karya Kyla kini rutin menghiasi etalase koperasi hingga pusat perbelanjaan seperti Botani Square di Bogor.
Perjalanan ini tentu bukan tanpa tantangan. Secara medis, Kyla mengalami hambatan intelektual yang membuat perkembangan mentalnya berada di kisaran usia anak 8 hingga 9 tahun. Kondisi ini mulai terdeteksi sejak ia berusia enam tahun, ditandai dengan keterlambatan bicara.
Di bangku sekolah, Kyla sempat kesulitan mengikuti pelajaran dan mudah merasa lelah. Namun, di dunia seni dan kreativitas, ia justru menemukan caranya sendiri untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri.
Bagi sang ibu, kunci utama dari semua pencapaian ini adalah membangun rasa percaya diri Kyla sejak dini. Bahkan, berjalan di atas panggung dengan sepatu hak tinggi yang tidak mudah bagi anak dengan kondisi istimewa pun mampu ia taklukkan.
Kisah Kyla Sherafina menjadi bukti nyata bahwa setiap anak terlahir dengan keunikan dan potensi masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah ruang, dukungan, dan kesempatan untuk bersinar.
Lebih dari sekadar cerita inspiratif, perjalanan Kyla adalah pengingat bahwa keterbatasan tidak pernah mampu membatasi mimpi.










Komentar