RASIOO.id – Penolakan warga terhadap rencana pembangunan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Kayumanis, Kota Bogor, mendapat tanggapan dari Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin.
Menurut Jenal, munculnya pro dan kontra di tengah masyarakat merupakan hal yang wajar dalam setiap kebijakan pemerintah, terlebih proyek tersebut menyangkut lingkungan dan kehidupan warga sekitar.
“Wajar saya rasa pro dan kontra dalam setiap kebijakan,” ujar Jenal usai menghadiri pelantikan pengurus LBHMI Cabang Bogor di Aula DPRD Kota Bogor, Sabtu, 9 Mei 2026.
Ia menilai, langkah yang perlu dikedepankan pemerintah saat ini adalah memperluas sosialisasi dan membuka ruang diskusi bersama masyarakat.
“Yang harus kita pertimbangkan dan pemerintah kedepankan adalah sosialisasi dan public hearing,” katanya.
Jenal mengatakan, warga tentu ingin mengetahui secara jelas dampak dari pembangunan PSEL tersebut, mulai dari persoalan bau, pengelolaan air lindi, hingga lalu lintas kendaraan pengangkut sampah.
“Saya rasa kalau semua duduk berdiskusi menyampaikan apa dampak kemungkinan ke depan, berbau atau tidak, air lindinya gimana, mobilnya bolong tidak,” ujarnya.
Ia juga menyebut masyarakat kemungkinan akan menerima keberadaan PSEL apabila dampak positifnya dirasakan langsung oleh warga sekitar, termasuk peluang kerja dan manfaat lainnya.
“Saya rasa masyarakat kalau terkena dampak positif dan bisa melibatkan tenaga kerja dan lain-lain, saya rasa mungkin tidak menolak,” katanya.
Pemkot Bogor, lanjut Jenal, akan melakukan sosialisasi secara lebih masif karena masih ada warga yang merasa belum dilibatkan dalam pertemuan sebelumnya.
“Namun, mungkin hari ini sosialisasi belum sepenuhnya masif, masih ada warga yang belum merasa diundang kemarin,” tuturnya.
Ia menilai, munculnya spanduk penolakan juga dipicu karena masih ada warga yang belum diajak berdialog langsung oleh pemerintah.
“Jadi saya rasa wajar kalau ada spanduk penolakan yang mereka mungkin tinggal di situ tapi belum diajak bicara,” ucapnya.
Ke depan, Pemkot Bogor memastikan seluruh elemen masyarakat di kawasan terdampak pembangunan PSEL akan dilibatkan dalam agenda sosialisasi berikutnya.
“Langkahnya pemerintah harus terus melakukan sosialisasi baik aksesibilitas warga yang terlewati maupun warga yang sekitar dekat dengan PSEL yang nanti akan kita bangun,” katanya.
Jenal juga mengaku optimistis proyek tersebut dapat berjalan selama pemerintah mampu menjawab kekhawatiran masyarakat terkait dampak lingkungan.
“Saya rasa insyaallah ada solusi selama pemerintah memastikan dampak-dampak yang dikhawatirkan oleh masyarakat bisa tertangani,” ujarnya.
Ia menambahkan, agenda sosialisasi lanjutan direncanakan kembali digelar pada pekan depan agar polemik yang muncul bisa segera ditangani.
“Sosialisasi agenda berikutnya mungkin minggu depan ya, saya sudah bilang ke Sekda segera jangan ditunda ketika ada masyarakat yang menolak kita harus respon segera,” tuturnya.
Menurutnya, seluruh RW di wilayah terdampak harus dilibatkan agar tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan dalam proses pembahasan proyek tersebut.
“Temui dan jangan ada yang tertinggal, misalkan ada 5 RW ya lima-limanya, 5 RW itu warga harus diundang walaupun mungkin perwakilan tokoh pemuda dan berbagai elemen masyarakat,” tambahnya.













Komentar