DPRD Kota Tangerang Kawal PSEL Mandiri Rusdi Solusi Sampah Sekaligus Penghasil Listrik

TANGERANG, RASIOO.id – Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi, memastikan proses pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mandiri terus berjalan dan saat ini memasuki tahap persiapan pembebasan lahan.

Menurut Rusdi, keberadaan lahan menjadi syarat utama untuk merealisasikan proyek strategis tersebut. Pemerintah Kota Tangerang menargetkan sedikitnya lima hektare lahan untuk mendukung pembangunan sekaligus pengembangan PSEL di masa mendatang.

“Secara alokasi anggaran sudah tersedia. Saat ini proses pengadaan lahannya masih berjalan. Mudah-mudahan bisa segera selesai, dan jika masih ada kekurangan anggaran pembebasan lahan, akan kami alokasikan melalui anggaran perubahan,” ujar Rusdi kepada wartawan, Selasa 2 Mei 2026.

Ia menjelaskan, penguasaan lahan baik secara fisik maupun administrasi menjadi langkah penting agar proyek dapat segera masuk ke tahap lelang dan konstruksi.

Menurutnya, pembangunan PSEL mandiri merupakan pilihan yang paling logis bagi Kota Tangerang dibanding harus bergantung pada fasilitas pengolahan sampah di daerah lain.

Rusdi menilai, jika pengelolaan sampah terpusat di luar wilayah Kota Tangerang, biaya operasional akan semakin membengkak. Selain itu, potensi gangguan sosial dan kendala koordinasi juga lebih besar karena berada di luar kewenangan pemerintah daerah.

“Kalau kegiatannya terpusat di daerah lain, biaya operasional akan meningkat. Kendalinya juga tidak sepenuhnya berada di tangan kita. Karena itu, PSEL mandiri menjadi pilihan yang rasional dan strategis bagi Kota Tangerang,” katanya.

Untuk lokasi pembangunan, Rusdi menyebut wilayah Kelurahan Manis Jaya, Kecamatan Jatiuwung menjadi salah satu alternatif yang dinilai paling memungkinkan karena masih memiliki ruang pengembangan yang cukup luas.

Ia mengatakan, kebutuhan lahan tidak hanya mempertimbangkan kapasitas saat ini, tetapi juga antisipasi peningkatan volume sampah di masa depan.

“Kita bicara kebutuhan jangka panjang. Jangan sampai lahan hanya cukup untuk program sekarang. Ke depan bisa saja kapasitas pengolahan ditingkatkan hingga 1.500 sampai 2.000 ton per hari, sehingga perlu ruang pengembangan yang memadai,” jelasnya.

Selain fokus pada pembangunan fisik, Rusdi juga meminta Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup untuk menyiapkan sosialisasi secara intensif kepada masyarakat sekitar lokasi proyek.

Ia menegaskan, teknologi yang digunakan pada PSEL berbeda dengan pola pengelolaan sampah konvensional seperti tempat pembuangan akhir (TPA), sehingga masyarakat perlu mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai manfaat dan dampaknya.

“Setelah lokasi ditetapkan dan proses pembebasan lahan selesai, Dinas Lingkungan Hidup harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Pastikan teknologi yang digunakan lebih modern dan tidak menimbulkan gangguan seperti bau maupun pencemaran lingkungan,” tegasnya.

Rusdi mencontohkan keberhasilan PSEL Benowo di Surabaya yang dinilai mampu mengelola sampah dengan teknologi modern sehingga dampak bau dapat diminimalkan.

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa PSEL mandiri yang dipersiapkan di Tangerang Raya nantinya akan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah kawasan metropolitan yang mencakup Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang.

Tak hanya menjadi solusi persoalan sampah, fasilitas tersebut juga dirancang menghasilkan energi listrik melalui teknologi gasifikasi dan insinerator modern.

“Yang terpenting bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah berupa energi listrik yang memiliki manfaat ekonomi bagi daerah dan masyarakat,” pungkasnya.

Komentar