RASIOO.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor resmi memulai pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang pada Jumat 26 Juni 2026. Langkah ini menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus komitmen pemerintah menghadirkan Kota Bogor yang lebih ramah bagi pejalan kaki.
Sejak pukul 00.00 WIB, akses di Jalan Kapten Muslihat ditutup sementara untuk mendukung proses pembongkaran yang diperkirakan berlangsung selama 30 hari kalender.
Selain sebagai bagian dari penataan kawasan, pembongkaran dilakukan karena kondisi struktur JPO yang dinilai telah mengalami korosi sehingga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, turun langsung meninjau persiapan pembongkaran bersama jajaran perangkat daerah terkait. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pembangunan kota ke depan harus lebih berpihak kepada pejalan kaki.
Menurut Dedie, selama ini banyak masyarakat, terutama lansia, anak-anak, hingga penyandang disabilitas, harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menaiki JPO hanya untuk menyeberang jalan.
“Selama ini mungkin kita tidak menyadari bahwa masyarakat yang hendak menyeberang harus berusaha naik turun tangga. Bagi orang tua maupun anak-anak, tentu itu bukan hal yang mudah. Ke depan, kami ingin Kota Bogor menjadi kota yang lebih ramah terhadap pejalan kaki dan lebih ramah kepada manusia,” ujarnya.
Ia menilai budaya berlalu lintas juga harus berubah. Pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, harus mulai memberikan prioritas kepada pejalan kaki saat menyeberang.
“Kendaraan roda dua maupun roda empat harus mau berbagi dengan masyarakat yang sedang menyeberang. Ini bagian dari upaya membangun Kota Bogor yang benar-benar menghargai hak pejalan kaki,” katanya.
Setelah JPO dibongkar, fasilitas pelican crossing dan zebra cross akan menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk menyeberang di kawasan Paledang.
Dedie optimistis keberadaan fasilitas penyeberangan di permukaan jalan dapat mendorong masyarakat maupun pengendara untuk lebih disiplin dan saling menghormati.
“Kalau nanti sudah tidak ada lagi JPO, maka pelican crossing atau zebra cross akan menjadi fasilitas utama penyeberangan masyarakat,” jelasnya.
Proses pembongkaran sendiri dimulai dengan pemutusan sling penyangga sebelum girder utama jembatan diturunkan menggunakan alat berat.
“Malam ini pekerjaan dimulai dengan memutus sling penyangga agar girder di bagian tengah bisa diturunkan secara bertahap,” ungkap Dedie.
Ia juga memastikan JPO di kawasan Paledang tidak akan dibangun kembali. Menurutnya, sudah saatnya ruang jalan lebih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki dibanding memaksa masyarakat terus naik turun jembatan.
“Masa manusia yang terus mengalah, harus selalu naik ke atas. Sudah waktunya kita membiasakan menghormati pejalan kaki. Mereka yang berjalan kaki juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman,” tegasnya.
Pemkot Bogor berharap perubahan konsep penyeberangan ini dapat menjadi awal terbentuknya budaya lalu lintas yang lebih tertib, di mana pengendara memberikan prioritas kepada pejalan kaki sebagaimana diatur dalam peraturan lalu lintas. Selain mempercantik kawasan, penataan tersebut diharapkan mampu menciptakan ruang kota yang lebih inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh pengguna jalan.















Komentar