RASIOO.id – Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghentikan seluruh materi taktis dan fisik bergaya militer dalam program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan di sejumlah satuan pendidikan militer.
Keputusan itu menjadi langkah penting pemerintah untuk memastikan program pembinaan sumber daya manusia berjalan lebih aman dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Ke depan, pelatihan akan lebih difokuskan pada penguatan kapasitas manajerial, pembinaan karakter, serta wawasan kebangsaan tanpa melibatkan latihan fisik berat seperti sebelumnya.
Di tengah perhatian publik terhadap kasus tersebut, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, turut meluruskan beredarnya video viral yang memperlihatkan peserta merangkak di saluran air. Ia menegaskan bahwa video tersebut bukan berasal dari pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih.
Menurutnya, rekaman itu merupakan dokumentasi kegiatan Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kemudian disebarkan dengan narasi keliru di media sosial.
Sebagai tindak lanjut evaluasi, Kemhan memutuskan menghapus seluruh materi teknis dan taktis militer lapangan dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang berkaitan dengan pelatihan calon manajer koperasi.
Sebagai gantinya, kurikulum akan diarahkan pada materi bela negara yang lebih ringan, peningkatan kebugaran sesuai kemampuan peserta, serta pembelajaran mengenai kepemimpinan, manajemen organisasi, dan pengelolaan koperasi.
Sementara itu, Kementerian Koperasi memastikan pembekalan mengenai pengelolaan koperasi tetap berlangsung selama 15 hari sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Kasus ini mencuat setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pelatihan di sejumlah satuan pendidikan yang berbeda, yakni Anisa Muyassaroh di Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Yonanda Muhammad Taufiq di Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Novia Rahmadhani Sihotang di Pusbahasa Kodiklatau Jakarta, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan di Satdik Yon Parako 465 Jakarta, serta Nola Dya Sari di Dodik Bela Negara Kalimantan.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, para peserta meninggal dunia akibat komplikasi medis, mulai dari gangguan jantung hingga riwayat penyakit tertentu yang diduga memburuk setelah menjalani aktivitas fisik yang cukup berat selama pelatihan.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta aparat kepolisian melakukan autopsi terhadap para korban guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah sekaligus mengungkap kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam penyelenggaraan pelatihan.
Di sisi lain, program ini juga menjadi sorotan DPR RI yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan maupun penggunaan anggaran. Pasalnya, biaya penyelenggaraan pelatihan disebut mencapai sekitar Rp30 juta per peserta, sehingga dinilai perlu dikaji agar sejalan dengan efektivitas program dan keselamatan peserta.
Melalui evaluasi total tersebut, pemerintah berharap program pembinaan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih tetap dapat berjalan dengan pendekatan yang lebih humanis, aman, dan relevan, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang profesional tanpa mengesampingkan aspek keselamatan.








Komentar