RASIOO.id – Masa pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Bagi lima perempuan di Bogor Selatan, berakhirnya masa kerja justru menjadi awal dari perjalanan baru. Berawal dari mengisi waktu luang dengan merajut di rumah, hobi tersebut kini berkembang menjadi usaha kreatif bernama Indina Crochet.
Para perajin yang rata-rata berusia sekitar 50 tahun itu memproduksi beragam kerajinan rajut secara mandiri dari rumah masing-masing. Karya mereka mulai diminati pasar dan menjadi sumber penghasilan tambahan.
Saat ini, Indina Crochet turut membuka booth dalam Festival Kopi Legendaris Bogor di kawasan Sempur, Kota Bogor, yang berlangsung 21–23 Agustus 2026. Kehadiran mereka menjadi salah satu cara memperkenalkan produk rajutan kepada lebih banyak masyarakat.
Perwakilan Indina Crochet, Riris, menceritakan usaha tersebut bermula dari aktivitas sederhana setelah mereka memasuki masa pensiun.
“Awalnya kita semua kerja, lalu setelah pensiun mengisi waktu di rumah dengan merajut,” ujar Riris saat ditemui di booth Indina Crochet, Jumat 21 Agustus 2026.
Tak disangka, hasil karya yang awalnya hanya dibuat untuk mengisi waktu justru mendapat respons positif. Melihat banyak orang tertarik, kelima perajin kemudian sepakat menekuni aktivitas tersebut secara lebih serius.
“Ternyata hasilnya bagus dan banyak yang suka, jadi kami lanjutkan sebagai mata pencaharian,” tambahnya.
Dari Gantungan Kunci hingga Tas Ratusan Ribu
Produk yang dihasilkan Indina Crochet cukup beragam. Mulai dari aksesori mungil seperti gantungan kunci dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu, dompet dan tas kecil seharga Rp40 ribu sampai Rp70 ribu, hingga tas berukuran besar yang dibanderol mencapai Rp500 ribu.
Jenis benang yang digunakan pun disesuaikan dengan karakter produk. Untuk aksesori kecil, mereka menggunakan milk cotton. Sementara produk tas dibuat menggunakan beberapa jenis benang seperti poly thick, poly small, hingga poli kilap.
Tidak hanya menjual produk yang sudah tersedia, Indina Crochet juga menerima pesanan dengan desain khusus atau custom. Konsumen dapat menentukan model sesuai keinginan tanpa dikenakan biaya tambahan.
Untuk pesanan dengan tingkat kerumitan tinggi, proses pengerjaan bisa membutuhkan waktu hingga satu bulan, terutama jika bahan yang dibutuhkan harus dipesan terlebih dahulu.
Belajar Otodidak, Pemasaran Merambah Digital
Menariknya, tidak satu pun dari para perajin tersebut belajar merajut melalui pendidikan formal. Mereka mengembangkan kemampuan secara otodidak hingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
Untuk memperluas pasar, Indina Crochet memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Mereka juga rutin mengikuti bazar dan berbagai kegiatan UMKM untuk bertemu langsung dengan calon pelanggan.
Bagi Riris, merajut bukan sekadar aktivitas menghasilkan uang. Kegiatan tersebut juga menjadi cara sederhana untuk menjaga produktivitas sekaligus melepas penat.
“Merajut justru jadi sarana refreshing buat kami. Kalau lagi capek, larinya ke merajut, setelah itu happy lagi,” tuturnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa merajut hanya identik dengan orang lanjut usia. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang mulai tertarik karena aktivitas tersebut dapat menjadi kegiatan kreatif untuk mengisi waktu sekaligus melepas stres.
“Kami ingin memberi semangat juga buat anak-anak muda, karena sekarang merajut bukan cuma untuk orang tua,” katanya.
Ke depan, Indina Crochet berharap dapat memperluas pasar sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk mengenal kerajinan rajut.
Kisah lima perempuan tersebut menjadi bukti bahwa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Dari benang, jarum, dan ketekunan, hobi yang awalnya hanya dilakukan di rumah perlahan berubah menjadi usaha bernilai ekonomi sekaligus ruang untuk tetap berkarya.








Komentar