Dari Lereng Gunung Batu Menembus Pasar Mancanegara, Kopi Ki Demang Racik Cita Rasa Bogor dari Hulu ke Hilir

RASIOO.id – Dari lereng Gunung Batu, Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, sebuah cerita tentang kopi tumbuh perlahan dan kini mulai menembus batas wilayah. Namanya Kopi Ki Demang, produk kopi lokal yang tidak hanya menjual cita rasa, tetapi juga membawa identitas kawasan Puncak 2 ke hadapan penikmat kopi.

Kopi Ki Demang menjadi salah satu produk kopi lokal yang mencuri perhatian dalam Festival Kopi Legendaris Bogor di Sempur, Kota Bogor, Jumat 21 Agustus 2026.

Bagi Kopi Ki Demang, secangkir kopi bukan sekadar hasil seduhan. Di baliknya terdapat proses panjang yang dimulai dari kebun, penjemuran, hingga proses roasting yang dilakukan secara mandiri.

Salah satu waiter Kopi Ki Demang, Roby (22), mengatakan usaha tersebut menerapkan konsep hulu ke hilir, sehingga sebagian besar proses produksi kopi dikelola sendiri bersama petani lokal.

“Untuk Kopi Ki Demang itu berasal dari Gunung Batu, tepatnya di Sukaharja, Sukamakmur, Bogor atau Puncak 2. Kebetulan dari cara penanaman, roasting, penjemuran, itu kita semua. Ada produknya sendiri,” ujar Roby saat ditemui di Festival Kopi Legendaris di Sempur.

Perjalanan Kopi Ki Demang bermula dari usaha yang dirintis Andika bersama para petani lokal. Dari proses pengolahan biji kopi, usaha tersebut kemudian berkembang hingga membuka gerai kafe secara resmi pada 2018.

Kini, Kopi Ki Demang tidak hanya mengandalkan satu karakter rasa. Sejumlah varian disiapkan untuk menjangkau selera penikmat kopi yang berbeda.

Di antaranya Robusta Gunung Batu, Arabika Sukawangi, serta pilihan seduhan seperti Drip Bag dan Vietnam Drip. Produk tersebut dibanderol mulai dari sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.

Bukan Sekadar Tempat Ngopi

Perjalanan Kopi Ki Demang juga tidak berhenti pada produk kopi. Gerai mereka di Jalan Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, dikembangkan sebagai tempat bersantai yang dapat dinikmati berbagai kalangan.

Suasana kafe dilengkapi hiburan musik langsung serta area bermain anak. Konsep tersebut membuat Kopi Ki Demang tidak hanya menyasar para pencinta kopi, tetapi juga keluarga yang ingin menikmati waktu bersama.

“Semua masuk sih, Kak. Masuk banget di semua kalangan, apalagi di suasana kafenya. Pokoknya untuk tempat, suasana, kopi dijamin oke. Sambil nyantai, ngemil-ngemil bareng keluarga,” kata Roby.

Konsep tersebut menjadi salah satu kekuatan Kopi Ki Demang dalam membangun kedekatan dengan konsumen. Kopi tidak ditempatkan sebagai produk eksklusif, melainkan bagian dari pengalaman bersantai yang bisa dinikmati siapa saja.

Dari Sukamakmur hingga Malaysia

Menariknya, perjalanan Kopi Ki Demang ternyata sudah melampaui pasar lokal. Produk tersebut telah diperkenalkan melalui berbagai pameran, termasuk hingga ke Malaysia.

Roby mengatakan pameran menjadi salah satu cara Andika memperkenalkan produk kopi dari Sukamakmur kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kebetulan untuk Pak Andika itu sudah banyak sih, kayak sudah di daerah Malaysia. Karena dulu Pak Andika menyebarkan ini lewat pameran-pameran kayak gini,” ungkapnya.

Ke depan, Kopi Ki Demang juga mulai menyiapkan langkah untuk memperluas jangkauan penjualan melalui kanal digital.

“Ke depannya planning kita bisa ada di online juga,” tuturnya.

Kisah Kopi Ki Demang menunjukkan bahwa kopi lokal Bogor memiliki peluang besar untuk berkembang ketika kekuatan petani, pengolahan, kreativitas, dan pemasaran dapat dirangkai dalam satu ekosistem.

Dari tanah Sukaharja, kopi itu tumbuh. Dari tangan petani dan peracik lokal, cita rasanya dijaga. Dan melalui festival serta pameran, nama Kopi Ki Demang perlahan dibawa semakin jauh—dari lereng Gunung Batu menuju meja para penikmat kopi, bahkan hingga ke mancanegara. (Hana)

Komentar