Suweg Mekar di Dalam Pot Rumah Warga Bogor, Pakar Ungkap Rahasianya

RASIOO.id – Tanaman suweg atau yang dikenal sebagai salah satu jenis tanaman mirip bunga bangkai menarik perhatian warga di Kota Bogor. Tanaman yang umumnya tumbuh di habitat alami justru berhasil tumbuh dan mekar di dalam pot sederhana di pelataran rumah warga.

Tanaman tersebut tumbuh di rumah Hasan Basri (53), warga Jalan Ahmad Yani Gang Masjid, RT 3/RW 4, Kelurahan Tanah Sareal, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Fenomena tersebut mendapat penjelasan dari Pakar Komunikasi Pembangunan dan Lingkungan Universitas Pakuan Bogor, Dr. Sardi Duryatmo, M.Si. Menurutnya, tanaman yang tumbuh tersebut merupakan suweg dengan nama ilmiah Amorphophallus paeoniifolius.

“Nama lokal tanaman ini suweg atau elephant foot yam. Nama ilmiahnya Amorphophallus paeoniifolius,” ujar Sardi, Rabu 2 September 2026.

Sardi menjelaskan, suweg merupakan tanaman asli wilayah tropis Asia Tenggara. Tanaman ini banyak ditemukan di kawasan Malesia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina, serta menyebar hingga India bagian selatan.

Di habitat alaminya, suweg biasanya tumbuh di lantai hutan sekunder, semak belukar, dan wilayah tropis basah yang memiliki musim kemarau.

Salah satu ciri khas suweg adalah bunganya yang mengeluarkan aroma menyerupai bangkai ketika mekar. Aroma tersebut berfungsi menarik serangga seperti lalat dan kumbang yang membantu proses penyerbukan.

“Aroma bunga suweg seperti bangkai untuk menarik serangga polinator atau penyerbuk,” tuturnya.

Sardi mengatakan, suweg memiliki mekanisme bertahan hidup yang membuatnya mampu kembali tumbuh setelah melewati musim kemarau. Saat kondisi kering, bagian daun dan tangkai semu di atas tanah akan layu dan mati. Fase ini dikenal sebagai dormansi.

Pada masa tersebut, tanaman menyimpan cadangan energi berupa pati dan glukosa di dalam umbi yang berada di bawah tanah. Ketika kembali memperoleh air dari hujan atau penyiraman, tunas dorman dapat tumbuh kembali.

“Begitu mendapatkan kelembapan dari air hujan atau penyiraman pekarangan, tunas dorman akan otomatis pecah dan tumbuh kembali,” jelasnya.

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa suweg dapat tumbuh di dalam pot rumah warga. Menurut Sardi, suweg memiliki toleransi terhadap lingkungan teduh karena habitat alaminya berada di lantai hutan.

Tanaman tersebut mampu melakukan fotosintesis dengan intensitas cahaya yang lebih rendah dan dapat tumbuh dengan naungan sekitar 40 hingga 60 persen. Karena itu, keberadaan pohon peneduh di sekitar rumah justru dapat menciptakan kondisi yang sesuai bagi suweg.

Selain pencahayaan, kondisi media tanam juga menjadi faktor penting. Suweg dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah tropis selama media tersebut gembur dan memiliki drainase yang baik.

“Tanah harus memiliki drainase yang baik dan tidak tergenang agar umbi tidak membusuk,” katanya.

Sardi menambahkan, bunga suweg biasanya muncul ketika cadangan nutrisi di dalam umbi sudah mencukupi. Kondisi ini lebih sering terjadi pada tanaman dengan umbi yang sudah cukup tua atau berukuran besar.

Ketika memasuki fase berbunga, tanaman akan memunculkan struktur bunga berupa spadix dan spatha. Seludang bunga kemudian berkembang dengan warna ungu kecokelatan dan mengeluarkan aroma khas selama masa mekar yang berlangsung sekitar dua hingga empat hari.

Selain memiliki keunikan dari sisi ekologi, umbi suweg juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Sardi menyebut suweg memiliki kandungan serat dan glukomanan serta indeks glikemik yang relatif rendah.

Kandungan tersebut membuat suweg berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat. Seratnya juga dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dan mendukung kesehatan pencernaan.

“Suweg dapat dijadikan pengganti sumber karbohidrat seperti nasi putih karena memberikan rasa kenyang lebih lama,” ujarnya.

Ia juga menyebut suweg mengandung sejumlah mineral, termasuk kalsium dan fosfor, yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang.

Fenomena suweg yang mekar di dalam pot di rumah Hasan Basri pun menunjukkan bahwa tanaman yang identik dengan habitat hutan tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan pekarangan, selama kebutuhan air, media tanam, dan pencahayaan tetap terpenuhi.

Komentar