Kita sering terlalu cepat menyebut sesuatu benar atau salah. Padahal, bisa jadi yang kita miliki bukan kebenaran, melainkan sekadar perkiraan tentang kebenaran.
Oleh: Saeful Ramadhan
RASIOO.id – Benar dan kebenaran memang terdengar seperti dua hal yang sama. Namun sesungguhnya keduanya bisa berjarak.
Benar adalah apa yang kita yakini berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kepentingan, bahkan perasaan yang kita miliki. Sementara kebenaran bisa berada jauh melampaui batas pengetahuan kita.
Perbedaan itulah yang mungkin menjelaskan mengapa manusia sepanjang sejarah tak pernah berhenti berselisih. Masing-masing datang membawa apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Masing-masing merasa memiliki alasan untuk benar. Dan sering kali, pertengkaran justru lahir karena setiap orang terlalu yakin bahwa apa yang diketahuinya sudah merupakan keseluruhan kebenaran.
Padahal, belum tentu.
Dalam kisah penciptaan manusia, kita menemukan gambaran tentang keterbatasan penilaian tersebut.
Ketika Tuhan hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, malaikat mempertanyakan keputusan itu. Manusia dipandang memiliki potensi membuat kerusakan dan menumpahkan darah.
Iblis pun mempunyai penilaian sendiri. Ia merasa lebih pantas daripada manusia. Ia merasa memiliki kelebihan yang menjadi alasan kelayakan: ibadah, zikir, dan tasbih.
Dalam ukuran mereka, keberatan itu mungkin masuk akal.
Tetapi ukuran manusia tidak selalu sama dengan ukuran Tuhan.
Tuhan kemudian menunjukkan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Ada potensi pada manusia yang tidak terlihat dalam penilaian awal mereka.
Di situlah batas pengetahuan menjadi jelas: kita bisa benar berdasarkan apa yang kita tahu, tetapi tetap keliru karena tidak mengetahui apa yang belum kita tahu.
Kisah Musa dan Khidir kembali memperlihatkan paradoks itu.
Musa melihat sebuah perahu milik nelayan dirusak. Secara kasatmata, tindakan tersebut adalah kerusakan. Bahkan tampak seperti sebuah tindakan yang tidak masuk akal.
Namun Khidir mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Musa. Perahu itu sengaja dibuat cacat agar tidak dirampas oleh penguasa yang merampas setiap perahu yang masih baik.
Sesuatu yang tampak sebagai kesalahan ternyata memiliki alasan yang tidak terlihat.
Musa melihat peristiwa.
Khidir mengetahui konteks di balik peristiwa.
Dan kita sering kali hanya melihat peristiwa.
Barangkali persoalan terbesar manusia memang berada di sana. Kita senang menilai sesuatu berdasarkan potongan informasi yang kita miliki, lalu memperlakukannya seolah-olah sebagai keseluruhan cerita.
Lebih rumit lagi, penilaian manusia hampir tidak pernah benar-benar bebas dari kepentingan.
Kita bisa membenci seseorang, lalu apa pun yang dilakukannya terlihat salah. Kita bisa menyukai seseorang, lalu kesalahannya terasa kecil. Kita bisa kecewa pada seseorang, kemudian menemukan seribu alasan untuk membenarkan kekecewaan itu.
Sebaliknya, ketika orang yang kita sukai melakukan kesalahan, kita tiba-tiba menjadi ahli mencari konteks, memahami keadaan, dan memaklumi alasan.
Keadilan sering kali berubah tergantung siapa yang sedang kita nilai.
Karena itu, pekerjaan paling mudah di dunia barangkali adalah menilai orang lain.
Kita bisa dengan cepat menjadi hakim. Menyusun kesimpulan. Memberi label. Mengukur moral seseorang hanya dari satu peristiwa.
Seolah-olah kita berdiri di tempat yang bersih.
Padahal, pada saat yang sama, kita juga sedang berdiri sebagai objek yang suatu hari akan dinilai orang lain.
Lucunya, ketika penilaian itu berbalik kepada kita, kita biasanya tiba-tiba meminta agar orang lain melihat cerita secara utuh.
Kita ingin niat baik kita dipertimbangkan.
Kita ingin konteks diperhatikan.
Kita ingin kesalahan kita tidak dijadikan ukuran keseluruhan diri.
Lalu mengapa kita begitu pelit memberikan hal yang sama kepada orang lain?
Mungkin karena menjadi hakim jauh lebih mudah daripada menjadi terdakwa.
Dan menjadi penilai terasa lebih nyaman daripada menyadari bahwa diri sendiri juga bisa salah.
Maka berhati-hatilah dengan penilaian.
Sebab tidak semua yang benar menurut kita adalah kebenaran. Dan tidak semua yang salah menurut kita benar-benar salah.
Penilaian bisa keliru karena informasi yang tidak lengkap. Bisa keliru karena waktu yang belum tepat. Bisa keliru karena kita tidak mengetahui apa yang terjadi di balik sebuah peristiwa.
Tetapi penilaian juga bisa keliru karena sesuatu yang lebih berbahaya: kita membawa kepentingan ke dalamnya.
Kita ingin seseorang salah, maka kita mencari kesalahannya.
Kita ingin seseorang benar, maka kita mencari pembenarannya.
Pada titik itu, kita tidak lagi mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari alasan untuk mempertahankan penilaian yang sudah kita buat.
Dan di sinilah penilaian berubah menjadi sesuatu yang bisa melukai.
Satu kalimat bisa menghancurkan reputasi. Satu tuduhan bisa mengubah cara orang memandang seseorang. Satu kesimpulan yang terburu-buru bisa menjadi beban yang dibawa seseorang bertahun-tahun.
Karena itu, mungkin tidak semua hal harus segera kita putuskan.
Ada perkara yang memang harus dinilai. Ada kesalahan yang harus dikoreksi. Ada kejahatan yang harus disebut sebagai kejahatan.
Tetapi bahkan dalam ketegasan, manusia tetap membutuhkan kerendahan hati.
Kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita mungkin tidak mengetahui seluruh cerita.
Sebab kita adalah subjek sekaligus objek. Kita menilai, tetapi kita juga akan dinilai. Kita merasa mengetahui, tetapi pengetahuan kita tetap memiliki batas.
Maka barangkali yang paling bijaksana bukan berhenti menilai, melainkan belajar menunda vonis ketika pengetahuan kita belum lengkap.
Biarkan kebenaran menemukan jalannya sendiri.
Sebab kebenaran memiliki dimensi ruang dan waktu. Sesuatu yang tampak berbeda ketika dilihat dari satu tempat, bisa memiliki makna lain ketika dilihat dari tempat yang berbeda. Sesuatu yang tampak salah hari ini, bisa memperoleh penjelasan lain ketika waktu membuka apa yang sebelumnya tersembunyi.
Kita tidak selalu keliru karena bodoh.
Kadang-kadang kita keliru hanya karena melihat terlalu sedikit.
Dan mungkin, pada akhirnya, kalimat yang paling layak kita pegang bukanlah “Saya benar.”
Melainkan:
“Saya mungkin benar berdasarkan apa yang saya tahu. Tetapi saya bisa saja salah karena ada sesuatu yang belum saya ketahui.”
Di antara keyakinan bahwa kita benar dan kesediaan mengakui kemungkinan salah itulah, barangkali, kebijaksanaan bermula.










![984a9ebd-d182-4e98-b980-49a9365e8917 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/984a9ebd-d182-4e98-b980-49a9365e8917-1024x682.jpg)
![IMG-20230327-WA0050 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230327-WA0050-1024x682.jpg)


Komentar