RASIOO.id – Bagi Bupati Bogor Rudy Susmanto, membangun Kabupaten Bogor tidak ubahnya membangun tubuh manusia. Sebelum mempercantik wajah, yang harus dibangun lebih dahulu adalah “urat nadi”.
Urat nadi yang dimaksud Rudy adalah jaringan jalan dan konektivitas antarwilayah.
Dengan wilayah yang membentang di 40 kecamatan, 416 desa dan 19 kelurahan serta dihuni sekitar 6,1 juta jiwa, Rudy menilai pembangunan jalan menjadi fondasi utama untuk mendorong pemerataan pembangunan Kabupaten Bogor.
“Ibarat sebuah tubuh, urat nadinya bangunlah dulu. Urat nadi itu apa? Jaringan jalan. Konektivitas antarwilayah, sehingga ke depan pemerataan pembangunan akan dirasakan dampaknya langsung oleh masyarakat,” kata Rudy dalam Podcast POSISI.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan arah pembangunan infrastruktur yang ingin dikejar Pemkab Bogor hingga akhir periode pemerintahannya.
Bagi Rudy, jalan bukan sekadar aspal yang menghubungkan satu titik dengan titik lainnya. Jalan adalah pembuka akses pendidikan, kesehatan, perdagangan, investasi hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat.
516 Kilometer Jalan Dibangun
Rudy menyebut sepanjang 2025, pembangunan jalan di Kabupaten Bogor mencapai sekitar 516 kilometer, baik jalan kabupaten maupun jalan desa.
Namun, angka tersebut belum membuat persoalan infrastruktur jalan di Kabupaten Bogor selesai.
Luas wilayah dan besarnya jumlah penduduk membuat kebutuhan pembangunan jauh lebih besar dibandingkan kemampuan anggaran daerah.
“Walaupun sudah kita anggarkan dalam jumlah yang menurut saya cukup besar, hal itu pun belum bisa menuntaskan seluruh infrastruktur yang ada di wilayah barat,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan jalan dilakukan dengan pendekatan konektivitas. Pemerintah tidak hanya memperbaiki ruas jalan yang rusak, tetapi juga membuka jalur baru yang dianggap mampu menciptakan poros ekonomi baru.
Baca Juga: Jemput Bendera Pusaka di Malasari, Rudy Susmanto Kobarkan Semangat Persatuan Kabupaten Bogor
Malasari Dibuka, Bogor Terhubung dengan Sukabumi-Lebak
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan jalan baru di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung.
Jalan sepanjang sekitar 20 kilometer tersebut diarahkan untuk membuka konektivitas Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Lebak, Banten.
Menurut Rudy, membuka jalan berarti membuka peluang baru bagi masyarakat yang selama ini berada di kawasan dengan akses terbatas.
“Kalau jalannya terbangun akan menjadi sebuah poros jalan baru yang menghubungkan antara Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Lebak Banten,” katanya.
Ia menilai keberadaan jalan baru akan memberikan efek berantai.
Akses masyarakat menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan menjadi lebih mudah. Mobilitas barang meningkat. Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang jalur tersebut berpotensi tumbuh.
“Kalau tadinya infrastruktur pendidikannya tertinggal, infrastruktur kesehatannya tertinggal, dengan aksesibilitasnya terbuka lebih baik, maka perlahan-lahan wilayah tersebut akan terbangun,” ujar Rudy.
Baca Juga: Bukan Sekadar Kantor Pemerintahan, Bogor Timur Disiapkan Jadi Magnet Investasi Baru
Bogor Timur Didorong Jadi Poros Ekonomi Baru
Konsep yang sama diterapkan di wilayah timur.
Pemkab Bogor melanjutkan rekonstruksi jalan dari Tajur, Kecamatan Citeureup, menuju Sukamakmur melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat lewat program Inpres Jalan Daerah.
Pembangunan dilakukan sejak 2025 dan dilanjutkan pada 2026.
Tak berhenti di sana, pemerintah juga membuka jalan baru sekitar 10 kilometer dari Jalan Transyogi menuju Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukamakmur.
Jalan tersebut menjadi bagian dari rencana membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bogor Timur.
Pemkab Bogor telah menyiapkan lahan sekitar 64,5 hektare di Desa Sukaresmi.
“Tidak tuntas di 2025, tetapi akan tuntas di 2026 dari mulai Jalan Transyogi hingga Desa Sukaresmi,” kata Rudy.
Baca Juga: Pemkab Bogor Kaji Kereta Gantung untuk Atasi Kemacetan Puncak
Jalur Selatan Disiapkan
Di wilayah selatan, Pemkab Bogor menyiapkan pembangunan jalan alternatif dari Pasir Muncang menuju Eiger hingga Taman Safari Indonesia.
Panjang jalur yang akan direkonstruksi sekitar 7,5 kilometer.
Rudy menargetkan pekerjaan tersebut mulai dilakukan pada September 2026.
Jalur ini diharapkan menjadi alternatif untuk memperkuat konektivitas kawasan selatan yang selama ini menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas sekaligus membuka akses baru bagi aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Bupati Bogor Sambungkan Jalan Tegar Beriman dengan Bomang pada 2027
Jalan Tegar Beriman-Bojonggede Kemang Disambungkan
Sementara di kawasan tengah, pemerintah menyiapkan proyek konektivitas Jalan Tegar Beriman dengan Jalan Bojonggede-Kemang.
Pembangunan dua lajur Jalan Bojonggede-Kemang telah dituntaskan pada 2025.
Pada 2026, pembangunan dilanjutkan dengan Jembatan Situ Nanggerang yang memiliki panjang lebih dari 100 meter.
Tahap berikutnya ditargetkan pada 2027 melalui pembangunan flyover yang menghubungkan Jalan Tegar Beriman dengan Jalan Bojonggede-Kemang.
Konektivitas tersebut diharapkan memperpendek akses masyarakat dari Ciseeng, Ranca Bungur, Parung dan Bojonggede menuju pusat pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong.
“Pada saat wilayah tersebut sudah terkoneksi dan terhubung, masyarakat Ciseeng, Ranca Bungur, Parung, Bojonggede yang akan menuju ke Cibinong ke kantor pemerintah, aksesnya lebih mudah dan jauh lebih dekat,” ujarnya.
Dari Jalan Menuju Pemerataan
Bagi Rudy, pembangunan jalan tidak boleh dilihat semata dari berapa kilometer aspal yang berhasil dibangun.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah jalan tersebut terbuka.
Wilayah yang sebelumnya terisolasi bisa terkoneksi. Hasil pertanian lebih mudah dibawa ke pasar. Anak-anak lebih mudah mencapai sekolah. Masyarakat lebih cepat menuju fasilitas kesehatan. Investor pun memiliki akses untuk masuk ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Karena itu, pembangunan jalan ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan, khususnya untuk mengurangi kesenjangan antara kawasan perkotaan dengan wilayah barat, timur dan selatan Kabupaten Bogor.
Rudy bahkan menyindir anggapan bahwa pembangunan Kabupaten Bogor hanya berpusat di Cibinong.
“Kan nggak mungkin kami bangun tugu di wilayah pinggiran di tengah gunung. Karena masyarakat di sana nggak butuh tugu, masyarakat butuhnya jalan, kita kasih jalan,” tegasnya.
Target Besar 2027-2028
Rudy menyadari pembangunan jalan Kabupaten Bogor tidak mungkin selesai dalam waktu singkat. Karena itu, ia menjadikan 2027-2028 sebagai momentum penting untuk mengejar ketertinggalan.
“Tidak ada waktu lagi. Momentum kita membangun tinggal 2027, 2028. 2028 sudah masuk masa jelang tahun politik 2029,” katanya.
Ia ingin persoalan jalan rusak yang masih tersisa dapat dituntaskan secara bertahap sebelum periode pemerintahannya berakhir.
Namun Rudy mengakui, selama masih ada jalan rusak, pekerjaan pemerintah belum dapat disebut selesai.
“Masih ada masyarakat kita yang tinggal di rumah yang tidak layak huni, walaupun tiap tahun jumlahnya banyak kami perbaiki, berarti kami belum berhasil,” ujarnya.
Hal yang sama berlaku untuk infrastruktur jalan.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut menjaga dan merawat infrastruktur yang telah dibangun.
Menurut Rudy, pemerintah memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan sekitar 44.000 ASN yang harus melayani 6,1 juta penduduk, kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
“Potensi terbesar membangun Kabupaten Bogor ada di masyarakat Kabupaten Bogor. Kalau ingin cepat terealisasi, kuncinya satu: ayo kita kolaborasi bersama-sama,” katanya.
Pada akhirnya, bagi Rudy, pembangunan jalan adalah tentang membuka masa depan.
Sebab ketika “urat nadi” itu tersambung, bukan hanya kendaraan yang bergerak. Ekonomi bergerak, pendidikan bergerak, pelayanan kesehatan bergerak, investasi bergerak, dan masyarakat ikut bergerak menuju pemerataan.
“Bogor tidak bisa dibangun oleh satu orang,” pungkas Rudy.













Komentar