RASIOO.id – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, masih belum sepenuhnya padam hingga Kamis malam, 10 September 2026.
Memasuki malam kelima, tim gabungan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor terus melakukan pemadaman di dua area utama TPA yang masing-masing digunakan untuk pembuangan sampah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan berbagai upaya telah dikerahkan untuk mengatasi kebakaran. Namun, kondisi timbunan sampah membuat proses pemadaman membutuhkan waktu.
“Titik kemajuannya sudah terlihat, namun seperti yang kita duga memang api di lokasi tempat pembuangan akhir sampah ini ibarat sekam ada di dalam, jadi kelihatan dari luar seperti tidak,” ujar Dedie saat meninjau lokasi TPA Galuga.
Menurutnya, bara api masih tersimpan di bagian dalam timbunan sampah. Kondisi tersebut membuat titik api bisa kembali muncul ketika timbunan dibuka menggunakan alat berat atau saat angin bertiup kencang.
Untuk mengatasinya, petugas mengerahkan alat berat guna membelah timbunan sampah secara bertahap. Setelah timbunan terbuka, petugas langsung menyemprotkan air ke titik bara yang ditemukan.
Penyemprotan dari darat dilakukan hingga sekitar pukul 02.00-03.00 WIB. Pembatasan waktu tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar pada pagi hari.
Keterbatasan air menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Petugas juga membuat sekat atau jalur air untuk mencegah api merambat ke area perbukitan lainnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bogor terus berkoordinasi dengan Lanud untuk melanjutkan pemadaman melalui metode water bombing.
Dedie juga mengusulkan modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya tambahan untuk membantu proses pemadaman, mengingat hujan alami belum turun di kawasan Galuga.
“Yang harus dilakukan adalah modifikasi cuaca ya dengan menurunkan hujan kalau kemudian ternyata hujan,” katanya.
Meski penanganan menunjukkan perkembangan, api belum dapat dipastikan padam sepenuhnya. Sejumlah titik api masih muncul ketika alat berat membuka timbunan yang sebelumnya sulit dijangkau karena kondisi medan dan akses jalan.
“Memang masih belum terpadamkan karena tadi kita lihat titik itu munculnya di tengah-tengah pada saat alat berat itu membuka timbunan. Jadi kita menduga itu belum padam,” tuturnya.
Dedie menjelaskan proses membuka timbunan, menyiram, kemudian kembali membuka bagian lainnya membutuhkan waktu. Pergerakan angin juga dapat membuat bara kembali membesar.
Selain itu, timbunan sampah yang telah menahun memiliki karakteristik padat seperti briket dan masih menyimpan potensi terbakar.
“Memang harus mau tidak mau ini kita harus tanggulangi,” tegasnya.
Pemadaman akan kembali dilanjutkan pada Jumat, 11 September 2026, dengan menggabungkan sejumlah metode, mulai dari water bombing, modifikasi cuaca, kanalisasi, penyemprotan dari darat hingga pembukaan timbunan menggunakan alat berat.
“Water bombing dilakukan untuk pembukaan yang ada timbulan asap. Kemudian juga kanalisasi, penyemprotan, pembukaan macam-macam, jadi memang segala cara kita harus upayakan,” pungkas Dedie.











Komentar