Kebakaran TPA Galuga Meluas 7 Hektare, 10 Ahli Kementerian Kehutanan Turun Tangan

RASIOO.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, masih menyisakan sejumlah titik api setelah memasuki hari ketujuh penanganan pada Minggu, 13 September 2026.

Lahan TPA yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 7 hektare. Area terdampak mencakup lahan yang dikelola Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Kebakaran pertama kali terjadi pada Senin, 7 September 2026. Api diduga berasal dari lahan pertanian sebelum kemudian merembet ke area tumpukan sampah di TPA Galuga.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menangani titik api yang masih berada di balik tumpukan sampah.

Untuk mempercepat proses pemadaman, Kementerian Kehutanan menurunkan 10 ahli penanggulangan kebakaran tanah gambut dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan ke lokasi.

“Hari ini dari Kementerian Kehutanan mengirimkan 10 ahli penanggulangan kebakaran tanah gambut. Ada metode khusus yang dikirim oleh Dirjen Gakkum untuk melihat secara langsung cara penanggulangan yang lebih efektif di lapangan,” ujar Dedie.

Menurut Dedie, kebakaran di area tumpukan sampah membutuhkan penanganan khusus. Pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan menyiram air secara konvensional karena api masih dapat bertahan di bagian dalam tumpukan sampah.

Karena itu, kehadiran para ahli diharapkan dapat membantu menentukan metode penanganan yang lebih efektif untuk memadamkan titik api yang masih tersisa.

Selain melibatkan para ahli, Pemkot Bogor juga mengkaji opsi penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk membantu penanganan kebakaran.

Pemkot Bogor telah berkomunikasi dengan BNPB, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BRIN, IPB, serta berkoordinasi dengan TNI AU melalui Lanud Atang Sendjaja (ATS).

“Kami sudah sampaikan ke BNPB, Jabar, BRIN, dan IPB terkait kemungkinan modifikasi cuaca. Namun karena kejadian karhutla juga sedang terjadi di berbagai wilayah Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatra, kita terus mengupayakan secara maksimal potensi yang ada,” tutup Dedie.

Komentar