Menjelang HUT ke-33, SEMMI Tangerang Bongkar 5 “PR Besar” Pemkot Tangerang: Dari Krisis Sampah hingga MBG Disorot

RASIOO.id – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-33 Kota Tangerang yang jatuh pada 28 Februari 2026, Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Pemerintah Kota Tangerang.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Sachrudin dan Wakil Wali Kota Maryono Hasan, SEMMI menilai masih terdapat sedikitnya lima persoalan mendasar yang berkaitan langsung dengan hak-hak dasar warga dan kualitas layanan publik.

Ketua Umum SEMMI Tangerang, Topan Bagaskara, menegaskan bahwa momentum ulang tahun kota seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan sekadar seremoni dan pamer penghargaan.

“Dengan beragam persoalan struktural yang belum dijawab, sulit membayangkan Tangerang sebagai kota terbesar di Provinsi Banten yang juga mengusung konsep smart city. Gagasan kota berkeadilan masih jauh dari realitas,” ujar Topan, Jumat 27 Februari 2026.

1. Krisis Lingkungan: Kota Dikepung Sampah

SEMMI menyoroti persoalan sampah yang dinilai belum tertangani secara sistematis. Tumpukan sampah masih terlihat di tepi jalan dan gang permukiman, bahkan praktik pembakaran sampah di ruang terbuka masih terjadi.

Topan menyebut pendekatan Pemkot masih terjebak pada birokrasi yang tidak efektif. Ia mendesak penerapan kebijakan Zero Waste City dan skema Extended Producer Responsibility (EPR) agar pengurangan sampah dilakukan dari hulu.

Menurutnya, jika tidak ada perubahan paradigma, krisis sampah berpotensi menyerupai persoalan yang pernah terjadi di TPA Piyungan.

2. Buruknya Pengolahan Limbah

Masalah limbah rumah tangga dan industri juga menjadi sorotan. SEMMI menilai masih banyak limbah domestik dibuang langsung ke got dan sungai tanpa pengolahan.

Selain itu, dugaan kebocoran air lindi dari TPA Rawa Kucing disebut mencemari area persawahan warga. Kondisi ini dinilai berisiko menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang jika tidak ditangani serius.

3. Banjir dan Drainase yang Tak Memadai

Meski Pemkot telah melakukan sejumlah upaya mitigasi, SEMMI menilai akar persoalan banjir belum disentuh secara fundamental.

Banyak sistem drainase tidak berfungsi maksimal akibat sedimentasi dan penyumbatan sampah. Ditambah lagi alih fungsi lahan dan berkurangnya ruang hijau membuat daya serap air menurun drastis.

“Meski hujan tidak terlalu deras, dengan kondisi drainase buruk tetap berpotensi banjir,” tegas Topan.

4. Taman Kota Minim Ramah Pengunjung

Pembangunan fisik kota dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kenyamanan warga. SEMMI menyoroti kurangnya fasilitas ramah disabilitas serta kondisi taman yang minim perawatan.

Beberapa taman seperti Taman Potret disebut memiliki risiko tinggi karena berada di pinggir jalan cepat dengan tingkat polusi dan kebisingan tinggi.

5. Program MBG Saat Ramadan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga tak luput dari kritik. SEMMI menilai program tersebut harus diawasi ketat, terutama terkait kualitas bahan, kebersihan, serta kecukupan gizi menu yang disajikan, khususnya saat Ramadan.

“Kami tidak ingin ada kasus keracunan seperti di daerah lain. Pemkot harus memastikan kualitas dan kebersihan mulai dari dapur hingga menu yang diberikan benar-benar bergizi,” tegasnya.

Momentum Evaluasi, Bukan Sekadar Perayaan

SEMMI Tangerang mendesak agar peringatan HUT ke-33 Kota Tangerang menjadi titik balik perbaikan tata kelola kota.

“Pemerintahan yang baik ditandai dengan transparansi dan keberanian mengakui masalah guna mencari solusi nyata, bukan sekadar mengejar penghargaan atau pencitraan,” pungkas Topan.

Dengan kritik ini, perayaan ulang tahun Kota Tangerang kali ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum evaluasi menyeluruh demi kota yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

Komentar