Penyelenggara Pendidikan Gaptek, Konten Medsos Ajakan Tawuran Berseliweran Arya Saputra Jadi Korban Salah Sasaran

RASIOO.id – Keterbatasan pengetahuan penyelenggara pendidikan terhadap aplikasi maupun konten yang beredar di media sosial menjadi satu persoalan yang membuat lemahnya pengawasan terhadap anak didik.

Gagap terhadap perkembangan teknologi atau dikenal dengan istilah gaptek membuat pejabat pendidikan maupun guru sekolah tidak banyak tahu teknologi berkembang dan  mengubah cara interaksi serta perilaku siswa.

Kasus pembacokan yang dilakukan tiga siswa SMK Yaspi Kota Bogor, terhadap Arya Saputra, siswa kelas X SMK Bina Warga 1, Kota Bogor menjadi salah satu contohnya.

Baca Juga : Belum Kering Kuburan Arya Saputra, Pelajar Bacok Pelajar Terjadi Lagi di Bogor

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso mengungkap, kasus tersebut dipicu melalui group live instragram yang isinya saling menantang perkelahian.

“Jadi pelaku melalui live instagram ini saling menantang dengan siswa SMK BW berinisial A. Pelaku mencari A di lokasi kejadian. Tapi tidak ketemu. Kemudian sasarannya menjadi acak dengan penciri celana atau seragam sekolah yang digunakan korban,” kata Bismo.

Arya Saputra yang tidak tahu menahu persoalannya jadi korban perilaku sadis tiga pelajar tersebut.

Namun, Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Barat mengaku belum pernah menerima laporan adanya grup media sosial, yang memancing aksi tawuran atau kekerasan di antara pelajar SMA dan SMK di Kota Bogor.

“Terkait hal itu tidak ada (laporan),” kata Analis Kebijakan KCD Pendidikan Wilayah II, Irman Haeruman kepada wartawan.

Irman mengaku pihaknya terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Satgas Pelajar untuk mendeteksi hal itu. Ia juga mengklaim sempat mengantongi nama akun yang disinyalir menjadi provokator aksi kekerasan para pelajar.

Namun, kata Irman, akun tersebut akan dievaluasi sejauh mana pengaruhnya terhadap perilaku para pelajar.

“Kami akan evaluasi, sejauh mana dan seperti apa akunnya. Apakah memang menjadikan hal yang madharat untuk anak-anak. Karena cenderung pada kekerasan akun itu,” ucap dia.

Di samping itu, Irman mengakui, ia telah mengirimkan surat kepada satuan pendidikan terkait keberadaan akun tersebut. Namun, ia tidak menyebutkan secara rinci apa yang disampaikan KCD Pendidikan kepada pihak sekolah.

Disisi lain, Irman pun menanggapi jika KCD sempat dinilai lemah dalam mengawasi pergerakan siswa SMA dan SMK di Kota Bogor. Menurutnya, KCD Wilayah II selalu melalukan upaya komunikasi dan pembinaan dengan seluruh kepala sekolah.

“Kepala sekolah kan harus menyampaikan kepada warga sekitar, termasuk pengawasan terhadap peserta didik,” tuturnya.

Sebagai langkah antisipasi agar pelajar tidak tergabung dalam grup tawuran, Irman mengaku akan menyampaikan hal tersebut kepada masing-masing satuan pendidikan. Menurutnya, KCD sedang menyusun dan memitigas semua persoalan yang terjadi di Kota Bogor, untuk kemudian dilaporkan ke pimpinan di Provinsi Jawa Barat.

“Seperti apa nanti langkah-langkah edarannya segera nanti kami sampaikan. Sudah dilakukan dan disampaikan ke seluruh satuan pendidikan,” ucapnya. (*)

Editor : Ramadhan

Komentar