Wafid dunya maya hasanah

RASIOO.id  – Sekumpulan alim berkumpul. Sambil seruput kopi dan kudapan ringan, kelompok kecil berganti-ganti topik obrolan yang kadang serius tapi lebih banyak tidak serius. Yang diperbicangkan, antara lain soal fenomena sosial yang berkembang belakangan ini.

Di sela obrolan, seorang dari mereka berkata, “Barangkali kita perlu ijtihad menambah satu kalimat do’a harian kita dengan wafid-dunya-maya hasanah,” kata pria yang duduk sambil menyandarkan punggungnya ke tiang penyanggah. Duduknya tidak lagi dalam posisi ‘sila’ sempurna.

Mendengar kalimat do’a agak asing tersebut, yang lain tercuri perhatiannya. Suasana hening sejenak. Si pusat perhatian menarik dalam-dalam rokok kretek yang terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya. Lalu, Dia berkata lagi, “Jadi, lengkapnya Robbana atina fiddunya hasanah, wa fiddunya-maya hasanah, wa fil akhiroti hasanah. Baru kemudian, wa qina ‘adzabannar,” kata pria itu, lantas tertawa.

Hahahaha… keheningan pecah. Usulan tersebut nampak mengundang kelucuan. Mereka terpingkal-pingkal melepas tawa.

Tentu saja, kalimat wafid-dunya-maya hasanah, tidak sungguh-sungguh mereka ingin jadikan kalimat tambahan do’a yang dalam literasi sebagian kalangan dijuluki sebagai do’a sapu jagad tersebut.

Alasannya, do’a Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar, dicuplik dari Ayat Suci Al-qur’an. Doa’ itu jika diterjemahkan ke bahasa kita, kurang lebih berbunyi, Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.

Mana berani Mereka menambah-nambahkan. Sangat beresiko!. Bisa dituduh bid’ah. Bahkan sangat mungkin mereka jadi bulan-bulanan sadisnya ‘lambe’, netizen +62.

Alasan kedua, se-maya-maya-nya dunia tetaplah dunia. Bukan alam lain yang berjarak antara dunia dan akhirat. Juga bukan dunia lain yang saat ini diisi manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Media sosial (medsos) yang jadi wadah informasi dan komunikasi di dunia maya itu, juga isinya manusia dengan manusia, ataupun yang dikatakan akun robot pun juga buatan manusia.

Demikian juga warga netizen -sebutan pegiat media sosial- fisiknya berwujud manusia. Teknologi kecerdasan buatan yang saat ini memuncaki perkembangan, juga tidak punya daya apa-apa tanpa keterlibatan manusia.

Dua alasan ini cukuplah sudah untuk kita memaklumi.

Baca Juga : Saat Seisi Dunia Jadi Wartawan, Wartawan Menjadi Apa?

Namun, sebenarnya, guyonan tersebut berangkat dari keresahan mereka atas kondisi dunia maya hari-hari ini. Banyak kabar yang mereka dengar, sejumlah aksi kejahatan dimulai dari dunia yang agak aneh itu. Kasus pemerkosaaan dari yang korbannya anak-anak sampai pelakunya yang anak-anak, peristiwa pembunuhan, kekerasan brutal, hingga berbagai gangguan keamanan dunia nyata, sebagian besar berawal dari aktifitas dunia maya. Bahkan, sejumlah penelitian menyebut angkanya 90-95 persen.

Repot betul memang. Sangat merepotkan.

Mereka juga mendengar ‘tuhan-tuhan’ dunia maya menciptakan makhluk baru yang lebih dashyat. Makhluk itu lahir dengan nama kecerdasan buatan alias artificial intelegence (AI). Teknologi ini lebih aneh lagi, karena ‘tuan’nya sendiri tidak bisa menebak pasti dia akan berkembang seperti apa.

Satu sisi AI dibangga-banggakan. Tapi di lain sisi, AI mulai mengusik ‘penghuni’ dunia nyata, yang lagi-lagi di antaranya soal pengaruh negatif yang mungkin dihadirkannya. Bukan tanpa alasan, survei terhadap 327 peneliti di Universitas New York pada September 2022 menunjukkan,  sepertiga percaya bahwa AI dapat membawa ‘kiamat gaya nuklir abad ini’.

“Pengembangan AI dapat mengakibatkan ‘adu senjata’ secara harfiah, karena negara dan perusahaan bersaing menciptakan sistem paling canggih untuk aplikasi sipil dan militer,” kata para ahli dikutip dari The New York Post, pada akhir Januri 2023.

Jauh tahun sebelumnya, Ahli fisika kuantum Profesor Stephen Hawking juga mengungkapkan bahwa artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memiliki potensi berbahaya bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Penemu teori gravitasi kuantum dan lubang hitam ini mengaku sangat khawatir dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, AI merupakan kreasi manusia yang dapat memiliki kemampuan melampaui manusia selaku penciptanya.

“Perkembangan kecerdasan buatan bisa berarti petaka bagi kehidupan manusia. Manusia yang dibatasi oleh evolusi biologis sangat lambat tidak akan mampu bersaing dengan perkembangan kecerdasan buatan. Posisi manusia akan tergantikan,” ungkap Hawking seperti yang dikutip dari laman Mashable.

Elon Musk juga memiliki pendapat yang sama. Pendiri perusahaan inovatif Tesla dan SpaceX ini pun mengaku sangat khawatir dengan potensi berbahaya yang dimiliki oleh teknologi AI.

Bahkan Musk mendeskripsikan teknologi AI dengan sangat mengerikan. Ia mengatakan, “Dengan kecerdasan buatan, kita sama saja berurusan dengan setan!”

Kengerian Kita terhadap pengambil alihan dunia nyata oleh ‘makhluk’ dunia maya barangkali tergambar dalam sejumlah film bergenre science fiction, seperti Transcendence, I Robot, dan masih banyak lagi. Film-film tersebut menggambarkan, manusia yang menciptakan teknologi menjadi pihak yang justru terancam, ketika ‘robot’ cipaannya itu mengambil alih kendali teknologi dari tangan manusia.

Lewat beberapa film, Kita memang seperti diarahkan untuk berimajinasi ke arah sana. Dan, kita dalam posisi tidak berdaya. Ketakutan dan butuh pertolongan. Kita berharap ada Pahlawan Super datang mengatasi keadaan. Sayang pahlawan super yang ‘kesaktian’nya mumpuni untuk mengalahkan makhluk-makhluk jahat itu nampak jauh lokasi beliau-beliau berada. Kebanyakan domisili Amerika.

Kita kurang yakin, Super Hero lokal, seperti Gundala, Wiro Sableng, Godam, mengetahui adanya ancaman ini. Kalau belum, wah payah betul. Mudah-mudahan, Panji si Manusia Milenium lebih update soal keterbaruan.

Rasanya Kita memang tidak bisa mengandalkan super hero datang menolong kita. Baik yang jauh maupun yang dekat. Mau yang dari Amerika atau dari Bukit Tengkorak. Semuanya gak ada yang pasti.

Kita perlu mendengar lanjutan obrolan kumpulan orang-orang alim yang tadi. Mereka bilang, Kita masih berdaya mengatasi keadaan. Kalau teknologi ya memang jauh jaraknya kita tertinggal. Kata mereka kita masih bisa mengejar.

Kita juga masih punya aji-aji, untuk membalik keadaan. Aji tersebut bernama do’a. Menurut yang mereka tahu, Do’a adalah senjata bagi umat Islam. Dan setiap do’a pasti dikabul.

Kalau begitu, kata salah seorang, doanya yang aman-aman saja.

“Ya Tuhan, berikan kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di dunia maya, dan kebaikan di akhirat, dan jauhkan Kami dari siksa neraka,” kata dia.

Aamiiin.

 

Saeful Ramadhan
Penikmat Kopi Rujukan

Komentar