RASIOO.id – Dua puluh tahun dari sekarang, Indonesia akan genap berusia seabad. Sebuah tonggak sejarah yang sakral sekaligus mendebarkan. Para sejarawan bilang, tiap abad dalam kehidupan sebuah bangsa, selalu ada “ujian besar”.
Bisa berupa krisis multidimensi, bisa pula kesempatan langka menuju kemajuan. Tergantung, siapa yang sedang memegang kemudi, dan ke mana arah haluan dibawa.
Optimisme tentu masih menjadi andalan. Dengan bonus demografi yang sedang berada di puncaknya, Indonesia sebenarnya punya tiket emas menuju negara maju.
Populasi usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif. Kalau dianalogikan, ini seperti dapur penuh chef berbakat, tinggal menanti resep yang tepat dan kompor yang menyala stabil.
Sumber daya alam pun melimpah. Gunung, laut, hutan, tambang—semuanya ada. Seolah Tuhan tengah memberikan cheat code kepada negeri ini, lengkap dengan pesan tersirat: “Jangan dihambur-hamburkan ya, Nak.”
Namun, harapan itu kerap goyah melihat kenyataan hari ini. Politik domestik masih seperti sinetron bersambung, penuh adegan kejar tayang dan aktor yang tiba-tiba ganti peran.
Narasi kebangsaan acap kali dikalahkan oleh drama personal.
Dan generasi muda—yang diharapkan menjadi tulang punggung masa depan—sering kali justru sibuk jadi buzzer atau healing dari quarter life crisis.
Lantas, bagaimana kita bisa menjadi negara maju jika energi lebih banyak terserap untuk cekcok di media sosial, alih-alih merumuskan arah masa depan bersama?
Jawabannya sederhana, tapi tidak mudah: kita semua, dari pemimpin nasional sampai netizen lokal, memikul tanggung jawab berat sebagai penghubung antara abad pertama dan abad kedua republik ini. Ini bukan sekadar persoalan teknokratis, melainkan proyek peradaban.
Sebuah kerja kolektif yang butuh lebih dari sekadar janji kampanye dan tagar viral.
Mungkin, sebelum melangkah lebih jauh, kita memang perlu duduk sejenak. Menyeduh secangkir harapan, menurunkan tensi, dan mulai membangun dari hal-hal yang paling dasar: kejujuran, kerja sama, dan visi jangka panjang.
Karena membangun negara tidak bisa dilakukan sambil marah-marah terus-menerus. Butuh ketekunan, juga sedikit selera humor agar tidak mudah patah arang.
Menuju 2045, kita tidak bisa hanya berharap. Kita harus bersiap. Kalau kata anak sekarang: bukan cuma vibes-nya yang harus bagus, tapi juga sistemnya menuju indonesia emas.
Simak rasioo.id di Google News









Komentar