Obrolan Sehari-hari: Antara Daster, Ronda, dan Kacang yang Punya Mimpi

 

RASIOO.id – Sayur…sayur… sayur….terdengar lantang suara di ujung gang sempit dan penuh sandal jepit. Tak lama berselang,  suara nyaring ibu-ibu ngumpul di sekitar tukang sayur. Bukan buat beli tomat, tapi buat ngegosip. Topiknya: tetangga yang baru beli motor.

“Pasti kredit tuh!” kata satu ibu sambil milih sawi.
“Ah, kredit aja sombong,” timpal ibu lain yang dasternya sudah mirip bendera setengah tiang.
“Halah, paling juga hasil korupsi!” ujar yang paling semangat, sambil ngunyah kerupuk.

Beginilah kadang hidup kita. Belum sempat nanya, “Kok bisa ya beli motor?”, sudah duluan menuduh, “Pasti nggak bener!” Padahal kata orang bijak dari Timur, Lao Tzu, “Orang yang tahu dirinya cukup, hidupnya tenang.” Tapi kalau hobinya mengukur dompet orang lain dengan curiga, ya hidupnya capek sendiri.

Pindah ke pos ronda, tempat bapak-bapak ngumpul sambil ngelamun dan ngerokok. Obrolannya beda: bukan motor, tapi negara.
“Negara ini rusak!” seru satu bapak sambil nyeduh kopi pakai air dispenser umum.
“Bansos kagak pernah nyampe!” timpal yang lain sambil ngelus perut.
“Pak RT milih-milih yang didata,” kata yang paling vokal, padahal istrinya juga ikut nyinyir di tukang sayur tadi.

Ini golongan yang hidupnya penuh keluhan tapi nggak pernah ikut kerja bakti. Pikirannya berat, tapi langkahnya malas. Seperti kata Confucius, “Orang bijak melihat kesalahan sebagai peluang memperbaiki diri”. Sebaliknay, orang ngopi doang dan malas ngangkat pantat, ya cuma ngeluh.

Seolah dirinya paling menderita, dan penderitaannya tersebut harus diselesaikan dengan membuat orang lain menderita. Tangannya seperti terserang stroke, berat sekali!

Baca Juga: Teman, dan Teman-Temannya

Tapi jangan sedih. Ada juga kaum optimis yang tinggal di kebun: para petani kacang bintang. Mereka bukan cuma nanem, tapi mikir.
“Kacang ini bukan sembarang kacang,” kata salah satu petani. “Rasanya kayak mede, tapi harganya belum semede.”
Yang lain nyeletuk, “Katanya bisa juga buat skincare. Bayangin, dari kacang jadi glowing!”

Mereka nggak ngeluh, mereka nyusun strategi. Lahan kosong dibikin produktif, warga sekitar dikasih kerja, masa depan disusun dari ladang. Kata filsuf Prancis, eh salah, kata tetua kampung: “Kalau bisa tanam harapan, ngapain terus-terusan tanam curiga?”

Hidup ini sebenarnya pilihan.
Mau jadi geng daster, yang sibuk ngurus motor tetangga sampai lupa utang sendiri?
Atau tim pos ronda, yang hobinya protes tapi males rapat RT?
Atau… jadi petani kacang bintang, yang meskipun kulitnya legam, tapi pikirannya terang?

Karena dalam hidup, kata pepatah kampung, “Yang penting bukan siapa yang paling nyinyir, tapi siapa yang paling rajin nanem.”

 

 

 

Simak rasioo.id di Google News

Komentar