IPB Serahkan Data Desa Presisi, Desa di Bogor Siap Berbenah

Suasana Ruang Rapat Kantor Desa Setu, Kecamatan Jasinga, Senin, 1 September 2025, siang itu terasa berbeda. Kursi-kursi yang biasanya dipenuhi perangkat desa, kali ini juga ditempati para akademisi dari IPB University dan pejabat Pemerintah Kabupaten Bogor. Di meja depan, sebuah map tebal berisi dokumen Data Desa Presisi (DDP) menjadi pusat perhatian.

 

RASIOO.id – Map itu bukan sekadar tumpukan kertas. Ia menyimpan potret nyata tentang kehidupan warga desa—tentang siapa yang tinggal di sana, bagaimana mereka mencari nafkah, hingga potensi apa saja yang bisa digarap untuk masa depan.

Dalam prosesi sederhana namun penuh makna, Prof. Sofyan Syaf, perwakilan IPB University, menyerahkan dokumen tersebut kepada Pemerintah Desa Setu, Kecamatan Jasinga, dan Desa Babakan Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng. Tepuk tangan pun bergema, seolah menegaskan bahwa data bukan lagi sekadar angka, melainkan jalan menuju perubahan.

“Data Desa Presisi ini memberikan gambaran riil mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan potensi desa. Dengan data akurat, pemerintah desa bisa merencanakan program pembangunan yang tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Bogor, Hadijana, S.Sos.

Hadijana menegaskan, selama ini pembangunan kerap terhambat oleh ketidakakuratan data. Dengan dukungan IPB, ia optimistis desa-desa di Kabupaten Bogor dapat melangkah lebih percaya diri menghadapi tantangan zaman.

Data yang Bernyawa

Bagi kepala desa maupun perangkat desa, DDP bukan sekadar laporan teknis. Ia bisa menjadi “kompas” dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) maupun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).

“Kalau dulu kita hanya mengandalkan data administratif yang sering kali tak sesuai realita, sekarang kita punya peta yang lebih jelas. Ini membantu kami menjawab kebutuhan masyarakat tanpa harus meraba-raba,” ungkap salah satu perangkat desa Setu.

Di tengah diskusi, muncul harapan agar data ini tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di laci, melainkan benar-benar menjadi dasar pengambilan keputusan—mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.

Menatap Masa Depan

Acara serah terima ditutup dengan penandatanganan berita acara dan sesi tanya jawab. Para peserta sepakat bahwa tantangan terbesar justru ada setelah data diterima: bagaimana mengolahnya menjadi program nyata.

Desa Setu dan Babakan Sadeng kini memikul harapan baru. Dengan data yang lebih presisi, mereka diharapkan mampu tumbuh menjadi desa yang mandiri, berdaya saing, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

Di luar ruang rapat, seorang warga yang ikut hadir berkomentar singkat, “Mudah-mudahan dengan data ini, pembangunan desa jadi lebih terasa untuk kami yang di bawah.”

Sebuah harapan sederhana yang justru menjadi inti dari seluruh proses panjang ini: memastikan pembangunan desa benar-benar berangkat dari kebutuhan warganya.

 

 

Simak rasioo.id di Google News

Simak rasioo.id di Google News

Komentar