RASIOO.id – Akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: unggahan pencapaian, kilas balik prestasi, dan tentu saja—daftar siapa saja yang dianggap paling gagal sepanjang tahun. Media sosial berubah menjadi ruang sidang terbuka. Semua orang jadi jaksa, hakim, bahkan algojo. Tidak perlu bukti lengkap, cukup tangkapan layar dan keyakinan diri yang tinggi.
Di tahun ini, kita menyaksikan betapa menjadi terang sering disalahpahami sebagai hak untuk memadamkan orang lain. Siapa yang viral dianggap benar. Siapa yang disorot dianggap layak dihancurkan. Yang penting ramai, urusan adil bisa menyusul- kalau sempat.
Fenomena ini terasa kental di tahun politik, tahun inflasi opini, dan tahun di mana kata “kritis” sering dipakai untuk membungkus caci maki. Kritik tentu perlu. Tapi belakangan, kritik lebih mirip olahraga ekstrem: makin menjatuhkan, makin dianggap hebat. Padahal, jatuhnya orang lain tidak otomatis menaikkan posisi kita-kecuali di grafik engagement.
Di ruang publik, kita melihat tokoh yang naik daun bukan karena gagasan, melainkan karena sukses mempermalukan pihak lain. Di kantor, ada yang menutup tahun dengan promosi jabatan sambil meninggalkan rekan kerja dengan reputasi compang-camping. Di grup WhatsApp keluarga, ada pula yang merasa paling tercerahkan setelah mengirim sepuluh tautan YouTube berjudul “BONGKAR!” lengkap dengan huruf kapital.
Lucunya, mereka yang paling rajin menguliti orang lain sering lupa bercermin. Kesalahan sendiri disebut “khilaf”, kesalahan orang lain disebut “karakter”. Diri sendiri minta dimaklumi, orang lain dituntut sempurna. Standar moralnya fleksibel, seperti karet gelang – lentur ke dalam, kaku ke luar.
Di dunia media dan wacana publik, akhir tahun juga diisi parade tulisan keras. Sebagian memang penting dan berani. Tapi sebagian lainnya hanya bising. Tajam ke pihak yang aman diserang, lembek ke pihak yang berisiko. Satir berubah jadi sinis, kritik berubah jadi kebencian yang pakai dasi.
Ada anekdot di redaksi menjelang tutup tahun:
Seorang penulis berkata, “Tulisan saya bikin banyak orang marah.”
Redakturnya bertanya, “Marah karena tercerahkan atau marah karena dihina?”
Penulis itu diam. Deadline tetap jalan.
Pertanyaan itu penting di akhir tahun ini. Apakah kita benar-benar sedang memperbaiki keadaan, atau sekadar memanfaatkan keributan? Apakah kita naik karena kerja dan gagasan, atau karena berhasil menarik orang lain turun ke lumpur yang sama?
Tahun ini juga mengajarkan satu hal pahit: terlalu banyak lampu sorot, terlalu sedikit lampu jalan. Semua ingin disorot, sedikit yang mau menerangi. Semua ingin tampil benar, jarang yang mau membantu orang lain menemukan kebenaran.
Padahal, refleksi akhir tahun seharusnya bukan tentang siapa paling bersinar, melainkan siapa yang paling sedikit melukai. Bukan siapa paling lantang, tapi siapa yang tetap waras saat semua berlomba berteriak. Bukan siapa paling viral, tapi siapa yang konsisten tidak menjatuhkan.
Menjadi baik di tahun ini terasa seperti tindakan radikal. Tidak ikut menghakimi dianggap aneh. Tidak ikut menghina dianggap lemah. Tidak ikut ribut dianggap tidak peduli. Padahal, kedewasaan sering justru tampak dalam keputusan untuk tidak ikut memadamkan api.
Menutup tahun, mungkin kita tidak perlu resolusi muluk. Cukup satu prinsip sederhana:
Jadilah terang, tanpa memadamkan cahaya orang lain.
Naiklah tinggi, tanpa menjatuhkan orang lain.
Menjadi baiklah, tanpa menjelek-jelekan orang lain.
Kritislah, tapi tetap manusia.
Karena jika semua orang sibuk memadamkan cahaya orang lain, jangan heran bila tahun depan kita menyambut gelap bersama-sama.
Simak rasioo.id di Google News











Komentar