RASIOO.id – Warga Perumahan KORPRI RW 05, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, mengeluhkan luapan air lindi yang diduga berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.
Air limbah tersebut masuk ke kawasan permukiman warga hingga lahan pertanian, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
Pengurus RT 01 Perumahan KORPRI RW 05, Gilang Ramadhan, mengatakan luapan air lindi mulai terjadi seiring meningkatnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Air berwarna gelap dengan bau menyengat itu menggenangi sejumlah titik di lingkungan warga dan bertahan cukup lama.
“Kondisi untuk saat ini, khususnya di Perumahan KORPRI, air lindi itu sudah masuk. Dampaknya seperti yang kita lihat, air sudah mengarah ke wilayah lingkungan kita sendiri dan menggenang,” ujar Gilang, Senin, 26 Januari 2026.
Menurut Gilang, luapan air lindi tidak terjadi setiap hari. Namun, saat hujan deras turun, debit air dari saluran pembuangan meningkat hingga melampaui kapasitas, sehingga air bercampur lindi meluap ke permukiman.
“Kalau setiap hari sih tidak, tapi kalau intensitas hujan tinggi, debit air dari pembuangan sampah itu meningkat. Ditambah lagi dengan air lindi, akhirnya meluap,” jelasnya.
Tak hanya mengganggu kenyamanan warga, luapan air lindi juga berdampak serius pada sektor pertanian. Seorang petani setempat, Mimi (67), mengaku kebunnya kerap terendam air limbah setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Semalam hujan gede jam satu malam, air limbah naik sampai ke sini. Kalau setiap hujan ya penuh,” kata Mimi.
Ia menuturkan, air lindi yang menggenangi kebun menyebabkan tanaman rusak dan tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga berujung pada gagal panen. Menurutnya, air tersebut terasa panas dan merusak tanaman.
“Kalau masuk ke kebonan mah panas, nggak jadi. Iya, gagal panen,” ungkapnya.
Mimi menyebut air limbah itu berasal dari kawasan TPA Rawa Kucing dan meluap ketika hujan deras. Meski saat tidak hujan alirannya masih ada, volumenya relatif kecil dibandingkan saat curah hujan tinggi.
“Kalau nggak hujan mah nggak penuh, tapi tetap ada sedikit. Itu dari pembuangan sampah, TPA Rawa Kucing,” ujarnya.
Ia mengaku belum pernah menyampaikan keluhan secara resmi kepada pemerintah maupun pengelola TPA. Hingga kini, menurutnya, belum ada petugas yang melakukan pemantauan langsung ke area kebun miliknya.
“Nggak pernah ada yang kontrol ke sini, orang TPA-nya juga nggak pernah keliling,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk menangani persoalan luapan air lindi tersebut. Mereka khawatir jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan lingkungan, kualitas hidup warga, serta mata pencaharian petani di sekitar TPA Rawa Kucing.
Sebagai informasi, air lindi merupakan cairan limbah yang dihasilkan dari timbunan sampah dan berpotensi mengandung zat berbahaya. Apabila tidak dikelola dengan baik dan meluap ke lingkungan sekitar, air lindi dapat mencemari tanah dan air permukaan, serta membahayakan kesehatan masyarakat.















Komentar