Keutamaan Tarawih Malam Ketiga: Tangis di Bawah ‘Arsy, Seruan Malaikat “Mulailah Amal Kebaikanmu, Dosamu Telah Diampuni”

RASIOO.id – Malam-malam awal Ramadhan selalu menghadirkan harapan. Namun malam ketiga menyimpan pesan yang begitu menyentuh hati. Dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan, keutamaan sholat tarawih pada malam ke-3 menghadirkan kabar penuh haru bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh menghidupkannya.

Disebutkan bahwa malaikat di bawah ‘Arsy berseru kepada hamba yang melaksanakan sholat tarawih:

“Mulailah melakukan amal kebaikan, maka Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu.”

Seruan ini menjadi gambaran betapa luasnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Di malam ketiga itu, pintu ampunan seakan diketuk dengan lembut, memberi kesempatan bagi setiap Muslim untuk kembali, memperbaiki diri, dan memulai langkah baru.

Ampunan yang Menenangkan Jiwa

Keutamaan ini menggambarkan janji pengampunan atas dosa-dosa masa lalu bagi mereka yang menghidupkan malam ketiga dengan ibadah tarawih. Bagi banyak orang, malam ini menjadi momen refleksi: tentang kesalahan yang pernah dilakukan, tentang kelalaian yang mungkin tak disadari.

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan spiritual untuk membersihkan hati. Malam ketiga menjadi pengingat bahwa tak ada kata terlambat untuk berubah.

Seruan yang Menguatkan

Seruan malaikat di bawah ‘Arsy menjadi motivasi agar umat Islam tidak berhenti pada satu malam saja. Jika ampunan telah dijanjikan, maka langkah berikutnya adalah menjaga konsistensi amal shaleh hingga akhir Ramadhan.

Inilah makna “awal yang baru” — lembaran yang kembali putih, dengan tekad yang lebih kuat untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Catatan Penting

Perlu dipahami, keutamaan malam ketiga yang merujuk pada Durratun Nasihin termasuk dalam fadhilah amal yang populer di kalangan masyarakat Indonesia. Status dan kekuatan hadits-hadits di dalamnya kerap menjadi diskusi di kalangan ulama. Karena itu, umat Islam dianjurkan menyikapinya sebagai motivasi ibadah, bukan sebagai dalil utama dalam penetapan hukum.

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, Ramadhan tetap menjadi bulan yang penuh rahmat. Malam ketiga hanyalah satu dari sekian banyak kesempatan yang Allah berikan untuk kembali kepada-Nya.

Barangkali, di antara sujud panjang dan doa yang lirih, ada air mata yang jatuh — bukan karena sedih, tetapi karena harap. Karena siapa yang tak ingin mendengar bahwa dosa-dosanya telah diampuni, dan hidupnya diberi kesempatan untuk dimulai kembali?

Komentar