RASIOO.id – Wakil Ketua III DPRD Kota Tanggerang, Turidi Susanto, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya pemenuhan nutrisi bagi siswa, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap penanganan stunting, pengurangan pengangguran, hingga perputaran ekonomi daerah.
Menurut Turidi, MBG merupakan langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus meminimalisir angka stunting. Ia menjelaskan, pola makan yang teratur melalui program ini membantu siswa mendapatkan asupan gizi yang tertata sesuai kebutuhan tubuh.
“MBG ini bukan hanya soal makan bersama di sekolah, tapi bagaimana anatomi tubuh anak-anak mendapatkan asupan gizi yang terukur dan sesuai kebutuhan. Ada jam makan yang diatur, sehingga pola konsumsi siswa menjadi lebih terstruktur,” ujarnya Ketua DPC Gerindra Kota Tangerang, pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG mampu menyerap sekitar 47 hingga 50 tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan tenaga lokal.
“Dari pemerintah pusat mungkin hanya tiga orang, selebihnya sekitar 47 orang itu tenaga lokal. Ini tentu membantu penanganan pengangguran di wilayah,” jelasnya.
Tak hanya menyerap tenaga kerja, program MBG juga mendorong perputaran uang di daerah. Anggaran yang dikucurkan pemerintah dibelanjakan untuk kebutuhan bahan baku dari pasar-pasar lokal, petani sayur, pedagang telur, daging, hingga pelaku UMKM.
“Artinya ada perputaran ekonomi di Kota Tangerang. Petani sayuran bisa menjual hasil panennya, pedagang telur dan daging juga ikut merasakan dampaknya. Secara ekonomi ini bergerak di tingkatan bawah,” katanya.
Turidi menegaskan, dampak positif MBG setidaknya mencakup tiga komponen utama, yakni penanganan pengangguran, perputaran uang di daerah, serta pemanfaatan bahan baku dari tingkat lokal.
Menjelang libur Hari Raya Idulfitri, ia memastikan program MBG tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Dari sisi pengawasan, DPRD Kota Tangerang terus memantau pelaksanaan program tersebut.
“Alhamdulillah sampai saat ini kami belum menerima laporan keluhan dari siswa terkait MBG, termasuk selama bulan Ramadan. Di lapangan juga bahan baku yang digunakan sesuai SOP yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN),” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa menu yang disajikan tidak ditentukan secara sembarangan. Terdapat perhitungan gizi yang disesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikan siswa, mulai dari SD hingga SMP.
“Ada ahli gizi yang menghitung kebutuhan karbohidrat, protein, dan lainnya. Kebutuhan anak SD tentu berbeda dengan SMP. Jadi yang diukur itu kandungan gizinya, bukan sekadar bentuk makanannya,” jelas Turidi.
Selain itu, terdapat asisten lapangan yang turun langsung ke sekolah untuk memastikan distribusi makanan berjalan baik, termasuk mendata siswa yang memiliki alergi atau kebutuhan khusus.
Dengan berbagai aspek tersebut, Turidi menilai MBG merupakan program yang sangat positif karena tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang.














Komentar