Jalan Berlubang Telan Korban, Mahasiswa dan DPRD Soroti Tanggung Jawab Pemkot Tangerang

RASIOO.id – Permasalahan jalan berlubang kembali menjadi sorotan di Kota Tangerang. Kondisi infrastruktur yang rusak di sejumlah titik dinilai tak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga mengancam keselamatan warga.

Desakan perbaikan cepat dan permanen mengemuka dalam audiensi antara mahasiswa dan Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi, Rabu 4 Maret 2026.

Ketua KOPRI PMII UNIS Tangerang, Dina Fikriyah, menilai kerusakan jalan kerap diperparah oleh bekas galian utilitas seperti PDAM dan PLN yang tidak dipulihkan secara optimal.

“Bekas galian sering tidak ditutup dan diperbaiki secara maksimal. Ini memicu kerusakan lanjutan yang membahayakan pengguna jalan,” ujar Dina.

Ia juga menyoroti buruknya sistem drainase di sejumlah kawasan. Genangan air akibat saluran yang tidak berfungsi baik mempercepat pelapukan aspal dan memperbesar lubang di badan jalan.

Menurut Dina, dampak dari persoalan tersebut sudah nyata. Ia menyebut adanya kecelakaan fatal di kawasan Jalan Kebon Nanas, sekitar Primaya Hospital, yang merenggut korban jiwa.

“Ini peringatan serius. Jalan berlubang bukan persoalan sepele, ini menyangkut keselamatan manusia,” tegasnya.

Mahasiswa mendesak DPRD agar mengoptimalkan fungsi pengawasan dan segera memanggil Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Mereka meminta adanya pendataan terbuka mengenai titik-titik kerusakan serta percepatan langkah perbaikan.

Menanggapi hal itu, Rusdi menjelaskan bahwa tidak seluruh ruas jalan di Kota Tangerang berada di bawah kewenangan Pemerintah Kota. Ia merujuk pada pembagian kewenangan sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Beberapa ruas seperti Jalan MH Thamrin merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi. Pemkot tidak bisa langsung memperbaiki tanpa koordinasi agar tidak melanggar aturan,” jelasnya.

Meski demikian, Rusdi sepakat bahwa solusi harus tepat sasaran dan berkelanjutan. Ia menilai metode betonisasi lebih cocok diterapkan di wilayah rawan genangan karena lebih tahan terhadap air, sementara aspal hotmix atau overlay ideal untuk kawasan dengan sistem drainase yang baik.

“Jika drainase buruk, hotmix akan cepat rusak. Pemilihan metode harus disesuaikan kondisi lapangan dan diikuti perawatan berkala,” ujarnya.

Masyarakat berharap ada sinergi yang lebih solid antara Pemerintah Kota, DPRD, serta instansi terkait. Transparansi pendataan kerusakan, ketegasan dalam mengawasi proyek utilitas, dan perencanaan berbasis kondisi teknis menjadi kunci agar jalan kota tidak lagi menjadi ancaman bagi keselamatan warga.

Komentar