RASIOO .id – Di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda, pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas dalam negeri. Salah satu fokus utama adalah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tetap terkendali, meskipun harga minyak dunia terus mengalami lonjakan.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM subsidi agar tidak naik. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap daya beli masyarakat yang rentan terdampak gejolak harga energi global.
“APBN kita gunakan sebagai shock absorber atau peredam kejut,” ujarnya. Dengan strategi ini, pemerintah menyerap sebagian besar tekanan kenaikan harga energi dunia agar tidak langsung dirasakan oleh masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan peran vital Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di saat banyak negara menghadapi tekanan inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi, Indonesia berupaya tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan.
Di sisi lain, pemerintah juga tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Untuk tahun 2026, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% hingga 8%. Target ini dinilai realistis dengan ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih kuat serta aktivitas ekonomi domestik yang terus bergerak.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa laju inflasi tahunan (year-on-year) pada Februari 2026 mencapai 4,76%. Angka ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga masih perlu diwaspadai, terutama di sektor energi dan pangan.
Dengan berbagai kebijakan yang ditempuh, pemerintah berharap mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Kombinasi antara pengendalian harga, perlindungan daya beli, serta dorongan pertumbuhan menjadi kunci agar ekonomi Indonesia tetap tangguh dan berdaya saing.
Di tengah badai ekonomi dunia, Indonesia memilih bertahan—bukan hanya untuk selamat, tetapi juga untuk terus melaju.








Komentar