RASIOO.id — Kabar baik datang dari pasar keuangan. Nilai tukar Rupiah menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis 9 April 2026, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, Rupiah langsung tancap gas dengan menguat di kisaran Rp16.995 hingga Rp17.012 per dolar AS. Penguatan ini menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran pasar global yang sempat membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Namun demikian, dinamika pasar tetap menunjukkan volatilitas. Hingga penutupan perdagangan, Rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas ke rentang Rp17.030 hingga Rp17.090 per dolar AS.
Penguatan Rupiah kali ini tak lepas dari meredanya ketegangan geopolitik global. Sentimen positif muncul setelah kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya sempat memicu ketidakpastian di pasar keuangan dunia.
Selain itu, kembali dibukanya jalur strategis Selat Hormuz turut menjadi faktor penting. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Normalisasi aktivitas di kawasan tersebut berdampak pada penurunan harga minyak global, sehingga meringankan tekanan terhadap ekonomi negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Dari dalam negeri, langkah sigap Bank Indonesia juga menjadi penopang stabilitas Rupiah. Bank sentral menegaskan komitmennya menjaga nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF).
Sementara itu, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Daya beli masyarakat disebut masih terjaga, meski di tengah ketidakpastian global yang sempat meningkat.
Meski Rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, pelaku pasar tetap diminta waspada. Pergerakan nilai tukar masih sangat dipengaruhi dinamika global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Dengan kombinasi sentimen positif global dan respons cepat otoritas dalam negeri, Rupiah kini mencoba bangkit—memberi harapan baru bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak dunia.















Komentar