RASIOO.id – Dua siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dari SMK Taruna Bhakti Kota Depok, Jawa Barat, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional setelah menemukan celah keamanan pada sistem milik NASA.
Keduanya adalah Rakha Hayya Ilhamsyah dan Balqis Amanda yang aktif dalam kegiatan bug hunting dan penetration testing melalui platform keamanan siber global.
Rakha menjelaskan, ketertarikannya terhadap dunia keamanan siber bermula dari rasa ingin tahu yang kemudian berkembang setelah mengetahui adanya kompetisi seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
“Awalnya hanya coba-coba, lalu semakin tertarik setelah mengetahui tentang bug hunting dan penetration testing. Dari situ mulai mendalami dunia cyber security,” ujarnya.
Sementara itu, Balqis menuturkan bahwa mereka mulai aktif mengikuti program bug bounty melalui platform resmi yang mempertemukan peneliti keamanan dengan berbagai institusi global, seperti Bugcrowd dan HackerOne.
“Kami melihat komunitas keamanan siber di beberapa daerah seperti Lampung, Pekanbaru, dan Surabaya sudah lebih dulu berkembang. Sementara di Depok masih terbatas, sehingga kami mencoba belajar dan mengembangkan kemampuan secara mandiri,” kata Balqis.
Dalam proses pencarian celah keamanan, keduanya melakukan pemindaian terhadap berbagai aset digital, termasuk domain milik NASA. Salah satu temuan yang mereka laporkan adalah tautan eksternal yang sudah tidak aktif tetapi masih tercantum dalam sistem.
Menurut Rakha, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko keamanan jika dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Link yang sudah mati tetapi masih tercantum bisa menjadi celah keamanan karena berpotensi diambil alih dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu,” jelasnya.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan melalui platform bug bounty untuk diverifikasi sebelum diteruskan ke pihak terkait. Balqis menjelaskan bahwa proses verifikasi laporan membutuhkan waktu karena harus melalui beberapa tahapan pemeriksaan.
“Setelah laporan dikirim, platform akan melakukan pengecekan terlebih dahulu. Jika dinyatakan valid, baru diteruskan ke pihak terkait seperti NASA,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses verifikasi dapat berlangsung hingga 90 hari, tergantung tingkat kompleksitas temuan. Jika laporan dinyatakan valid, peneliti biasanya akan menerima pengakuan resmi berupa letter of recognition.
Menariknya, sebagian besar kemampuan yang dimiliki Rakha dan Balqis diperoleh secara otodidak di luar pembelajaran formal di sekolah. Meski demikian, pihak sekolah dinilai memberikan dukungan dalam penguatan dasar-dasar jaringan komputer.
“Kami belajar secara mandiri, tetapi sekolah sangat mendukung dan memberikan dasar-dasar networking,” kata Rakha.
Keduanya juga menyampaikan apresiasi kepada komunitas dan mentor yang turut membimbing, termasuk instruktur dari SpectraSec.
Ke depan, Rakha dan Balqis berencana melanjutkan pendidikan di bidang teknologi informasi di sejumlah perguruan tinggi negeri, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain untuk mengembangkan kemampuan di bidang teknologi, khususnya keamanan siber, secara positif dan bertanggung jawab.






Komentar