RASIOO.id — Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan tajam dan mencatatkan level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Tekanan eksternal yang terus membesar membuat mata uang Garuda tak mampu keluar dari tren negatif.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,17% ke posisi Rp17.424 per dolar AS. Sepanjang hari, pergerakannya sempat lebih dalam dengan menyentuh level Rp17.434 sebelum akhirnya sedikit pulih menjelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia berada di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.410 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar valuta asing.
Pelemahan rupiah kali ini tidak terjadi tanpa sebab. Gejolak geopolitik global menjadi salah satu pemicu utama, terutama meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, serta serangan terhadap fasilitas energi di Rusia. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor global.
Lonjakan harga minyak mentah dunia turut memperparah kondisi. Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia menghadapi tekanan tambahan dari meningkatnya biaya impor, yang berpotensi mendorong inflasi dalam negeri.
Di sisi lain, dominasi dolar AS juga semakin kuat. Indeks dolar AS (DXY) terus berada di level tinggi karena investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, kinerja ekspor yang mulai melemah ikut memperburuk situasi. Data terbaru menunjukkan ekspor Indonesia mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, yang secara langsung menggerus daya tahan rupiah.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui strategi triple intervention, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar obligasi, guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak berlebihan.
Pemerintah pun memastikan bahwa kondisi ini telah diantisipasi dalam skenario fiskal. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan untuk mengurangi dampak lanjutan terhadap perekonomian nasional.
Situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan global masih mendominasi arah pasar keuangan. Para pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan otoritas serta perkembangan geopolitik dunia yang dapat menentukan arah rupiah ke depan.














Komentar