RASIOO.id – Niat merantau ingin bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK), tiga pemuda asal Kelurahan Sindangbarang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, malah jadi korban penipuan lowongan kerja yang didapati dari Facebook.
Tak hanya itu, ketiga pemuda berinisial W (36), IE (27) dan RP (16) bahkan sempat disekap dan harus memberikan uang kepada perusahaan diduga fiktif itu untuk bisa pulang.
Salah satu korban W (36) menceritakan kronologi kejadian tersebut. Awalnya, mereka mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dalam grup Facebook “Loker ABK cumi muara angke atau pinggiran merauke”.
Usai mendapat informasi tersebut, mereka diharuskan pergi ke suatu tempat di Kabupaten Indramayu dan dijanjikan keberangkatan menjadi ABK pada Minggu 2 Agustus 2026 lalu.
”Awalnya saya tahu dari halaman Facebook. Lalu menghubungi oknum tersebut hingga (berhubungan) via Whatsapp,” ujar W.
Mereka sempat kaget karena tidak lama sejak berkomunikasi karena awalnya belum ada kepastikan keberangkatan. Kemudian, ketiga korban dijemput oleh oknum dan sopir lalu diantar ke Indramayu.
”Saat briefieng di Bogor, kami dijanjikan uang kasbon (pinjaman) sebesar Rp4 juta hingga Rp5 juta dari gaji yang dijanjikan saat sampai disana. kemudian dipotong biaya travel dari Bogor ke Indramayu Rp300 ribu, potongan lain Rp300 ribu. Intinya sisa bersih kami terima gaji sekitar Rp3,5 juta,” jelas W.
W bersama rekannya pun menyanggupi perjanjian tersebut dan berangkat naik mobil ke Indramayu dengan rencana melaut selama empat bulan ke Kalimantan.
Bahkan, ketiga pemuda itu mengajak dua orang teman lainnya, sehingga total korban jadi lima orang.
Namun sampai di sana, janjinya berubah. Uang travel yang awalnya disepakati Rp300 ribu, tiba-tiba naik menjadi Rp1 juta, dan mereka terus meminta tambahan biaya lain hingga Rp700 ribu.
”Semuanya tidak sesuai dengan kesepakatan awal, ” ucap W.
Mereka pun terlunta-lunta karena kasbon yang dijanjikan tak kunjung turun
”Waktu berangkat, saya cuma bawa uang Rp10 ribu yang langsung habis untuk beli roti dan air demi mengganjal perut. Kami sehari semalam tidak makan,” ujar dia.
”Di tempat penampungan memang disediakan makan dan minum, tapi ternyata itu semua dihitung ke dalam utang kasbon yang harganya dipatok sangat mahal, ” ujarnya.
Ia pun sadar yang tidak beres dan ingin pulang. Namun, mereka malah tidak diizinkan pulang dan disekap di suatu rumah oknum pencari ABK itu.
”Mereka menahan kami. Mereka bilang kalau mau pulang harus bayar tebusan Rp1,5 juta sampai Rp2 juta,” tuturnya.
Ia mengaku sempat bersitegang dan hampir bentrok karena sudah marah merasa diperas.
”Akhirnya, kami memberanikan diri kabur keluar dari ‘kandang macan’ itu dan untungnya berhasil mendapat bantuan dari pihak kelurahan serta kepolisian setempat. Mereka terus mengancam bahwa kami tidak bisa pulang kalau tidak bayar,” ujar dia.
Menurutnya, Selama dua hari di penampungan itu, W tidak bisa tidur karena sangat ketakutan dan kelaparan.
“Waktu akhirnya kami bisa berjalan keluar dari sana, saya hampir pingsan dan sempat jatuh dua kali di jalan saking lemasnya menahan lapar dan pusing,” ujar dia.
Namun hingga saat ini, pihaknya belum membuat laporan polisi karena merasa takut dan trauma dengan kejadian tersebut.
“Tapi kami berharap hal ini tidak terjadi lagi dan perusahaan fiktif itu bisa segera ditindak oleh pihak kepolisian,” tutup dia. (Hana)















Komentar